Dimanakah Orangtuaku?

Suatu hari, di balik lalung-lalang kendaraan bermotor, ada kecelakaan fatal yang terjadi di sana. Seorang anak kecil berumur 2 tahun dilarikan ke rumah sakit, sementara orangtuanya entah ada dimana. Sejak kecelakaan fatal, anak kecil yang ternyata bernama Silvia Maharani itu dirawat oleh tantenya. Namun, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tentenya menitipkan Silvia ke panti asuhan.

Silvia hidup dan diperlakukan sama dengan semua anak yang berada di panti asuhan itu. Di panti asuhan, ada 2 pengurus, yang pertama bernama Bu Livi dan yang kedua adalah pengurus baru bernama Bu Silvi. Mereka berdua sangat sayang kepada anak-anak di panti asuhan itu. Namun anehnya, kasih sayang dari Bu Silvi kepada Silvia melebihi anak-anak yang lain. Lama kelamaan rasa kasih sayang yang lebih itu membuat anak-anak yang lainnya menjadi iri, kecuali satu anak yang merupakan sahabatnya, ia bernama Kirana.

Untuk melampiaskan rasa iri itu beberapa anak pernah 1 atau 2 kali memfitnah Silvia. Saat pertama kali Silvia difitnah, sedang ada ulang tahun salah satu anak yang bernama Loli. Bu Livi dan Bu Silvi memberikan kado sebuah boneka beruang yang tingginya hampir menyamai badan Loli. Saat pesta akan usai, Loli dan temannya diam-diam mengambil boneka beruang pemberian Bu Silvi dan Bu Livi dan menyembunyikannya di kolong ranjang milik Silvia. Setelah itu ia cepat- cepat kembali dan berteriak pura-pura kebingungan, “Hah, dimana boneka beruangku? Tolong geledah semua tempat tersembunyi di sini sampai bonekaku ketemu!!”

Para pembantu yang disuruh untuk menggeledah segera datang dan mulai menggeledah semua tempat. Mulai dari kolong meja, belakang rak buku, dan lain-lain. Sampai akhirnya mereka menggeledah kolong tempat tidur, betapa kagetnya Bu Livi dan Bu Silvi saat tahu jika boneka milik Loli ada di kolong ranjang milik Silvia. Kirana berkata, “Tidak mungkin Silvia pelakunya, dari tadi di bersamaku!” “Bukannya tadi ia sempat pergi sebentar ya?” Jawab Loli dan teman-temannya yang nakal. Setelah itu Kirana sudah tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menangis dan disusul oleh ejekan Loli dan teman-temannya.”Nangis lagi nangis lagi, dasar anak cengeng. Tidak ada yang harus dilakukan selain menangis selalu.” “Apa yang tadi kamu bilang? Dia itu menangis karena kamu mengejek. Apa kamu juga mau diejek? Kalau kau mau berjanjilah padaku kalau ada orang yang mengejekmu, kamu tidak boleh menangis.” Kata Silvia “Waduh, mulai lagi itu sifat sok alimnya. Pergi aja ah…”

Ternyata setelah Loli dan gengnya memfitnah Silvia, justru Bu Silvi semakin menyayangi Silvia. Silvia juga semakin ingin tahu, siapa dan dimanakah keluarganya berada. Itu disebabkan ingatan kecil di benaknya kalau dulu ia mempunyai keluarga. Ia selalu bertanya kepada para pembantu panti asuhan maupun Bu Livi atau Bu Silvi. Namun setiap Silvia bertanya, mereka selalu berkata, “Kau nanti akan mengetahuinya Silvia.” Ia selalu bosan akan jawaban yang itu-itu saja.

Akhirnya, pada suatu malam, Silvia dengan hati-hati memakai sandal dan keluar kamar. Di luar, ia mendengar suara nyanyian. Nyanyian itu sangat persis dengan nyanyian ibunya dulu ketika ingin menidurkannya. Silvia menyelidiki asal nyanyian itu. Ternyata, suara nyanyian itu berasal dari sebuah kamar. Tanpa basa-basi Silvia langsung masuk ke dalam kamar itu. Silviapun kaget karena itu adalah kamar Bu Silvi. “Silvia, apa yang kau lakukan disini?” Dengan tergagap-gagap, Silvia menjawab.”Saya hanya ingin mencari tahu dimana keluarga saya bu.” “Ketahuilah Silvia, salah satu keluargamu ada di sini.” Jawab Bu Silvi.

“Siapa yang ada disini bu?” Tanya Silvia dengan sangat penasaran.”Ibumu nak, akulah ibumu. Karena itu aku memperlakukan seperti anakku sendiri.” Jawab Bu Silvi atau ibu.” Bu Sil, eh.. Ibu, bagaimana ibu bisa ada disini?” Tanya Silvia.” Saat kecelakaan fatal dulu, ibu dengan kaki terpincang pincang pergi dari kerumunan orang dengan diam-diam. Di jalan, ibu bertemu Bu Livi, dan akhirnya ibu menawarkan diri menjadi pengurus disini juga agar ibu juga mempunyai pekerjaan.” Jelas ibu.” Lalu, bagaimana dengan ayah?” Ia adalah koki disini, Chef Ricky, itulah ayahmu.” Benarkah? Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih aku sekarang telah mengetahui orangtuaku. Dan ibu, apakah kita akan tinggal disini?” “Tidak, kita akan pindah ke rumah kita yang baru. Tapi ayah dan ibu tetap menjadi pengurus disini. Jadi kamu masih bisa bermain dengan teman-teman lamamu.” Kata ayah tiba-tiba.

Akhirnya sejak itu, Silvia tinggal bersama keluarganya untuk selamanya ๐Ÿ˜Š

7 thoughts on “Dimanakah Orangtuaku?

  1. Hai Damai, waaahh cerpennya bagus deh..uda kayak bikinan orang gede lho..
    Boleh saran yah.. bisa jadi lebih panjang sepertinya say ceritanya, karena paragraf terakhir tante agak bingung..jadi tante bolak balik baca paragraf 1 lalu paragraf terakhir.. sepertinya ada yang missing say..
    Smangat yah..pengen besok-besok anak tante juga pinter nulis kayak Damai.. ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s