#Random (2)

Haaii…. Seperti tulisan #Random sebelumnya, aku kali ini juga akan menceritakan beberapa hal yang terjadi di sekolahku hari ini.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk lagi ke sekolah setelah hampir satu minggu ijin karena sakit. Di hari Kamis ini, sebenarnya aku mendapat kabar kalau aku akan diberi sanksi karena nggak masuk sekolah saat upacara 17 Agustus. Tapi aku tenang saja. Karena kan, aku memang baru saja sembuh sakit. Surat ijinnya juga ada. Daripada loyo terus pingsan di tempat upacara, mending istirahat di rumah, kan. Itu kalau kataku sih 😁 Lagipula pada akhirnya aku nggak mendapat panggilan hukuman karena hal itu. Jadi, yaa, nggak apa-apa deh. Yaa, kecuali kalau memang hukumannya besok 😅

Nah, karena hari ini adalah hari pertama masukku setelah sakit, teman-temanku yang langsung datang mengerubungiku saat melihatku masuk. Kangen kali ya 😂 *kegeeran. Beberapa hari yang lalu juga ada yang menanyakan langsung lewat LINE, kok aku lama ijinnya. Jadi tadipun masih banyak teman-temanku yang tanya, “Mai! Kamu sakit apa kemarin?” Dan akupun harus menjawabnya satu persatu seperti menghadapi wartawan.. 😅 

Cerita lain, agak agak siang saat istirahat aku dipanggil oleh mbak Khansa dan mbak Fira yang satu tim Jurnalistikku saat lomba. Merekapun cerita (mereka tahu cerita ini dari salah satu guru di sekolahku), kalau kelompok dari sekolah kami tidak ikut lagi ke babak final sebenarnya karena tidak diberi pengumuman. Padahal, karya tulis sekolahku adalah salah satu karya tulis yang terbaik di lomba itu. Jadi, kami tidak lanjut ke babak final sebenarnya bukan karena kalah. 

Mereka juga ada kabar lagi, entah benar, entah tidak, bahwa ada pihak di lomba Jurnalistik itu yang berbuat curang dan berusaha menyingkirkan kelompok kami dengan cara yang tidak benar. Tapi, aku tidak akan menyebutkan siapa pihak tersebut walaupun aku mengetahuinya. Sebab aku tidak ingin menyindir siapapun dan menyebarluaskannya di blog-ku ini. Jujur saja, aku, Mbak Fira, dan Mbak Khansa sampai ingin menangis mendengar kabar itu. Namun, aku menahannya karena aku tidak ingin semua anak jadi tahu dan membuat kambuh sifat kepo mereka 😁

Dan cerita terakhir hari ini adalaah… Aku dipilih menjadi Dokter Cilik! Aku dikabari oleh petugas UKS, Bu Ana. Ia memanggil 3 orang dari kelas 5 untuk ikut ke UKS. Dan di sana ada banyak anak kelas 4 yang dipilih. Walaupun nggak tau namanya, aku sempat mengobrol dengan beberapa dari mereka. 

Aku masih belum tahu Dokter Cilik ini detil aktivitasnya seperti apa. Karena tugas baru akan diberitahu mulai minggu depan sesuai jadwal piket masing-masing. Aku kebagian hari Senin. Ada 2 Dokter Cilik lama yang mendampingi beberapa Dokter Cilik baru. Dan yang mendampingiku ialah, Syifa, yaitu teman sesama Warcil. Jadi aku tidak perlu berkenalan lama-lama. Syifa akan mendampingi untuk hari Senin dan Selasa. Di hari Rabu dan Kamis, yang mendampingi ialah Luna, dia adalah teman seperumahan sekaligus sahabatku dulu. Rasanya senang dan excited sekali menunggu untuk piket pertamaku di hari Senin nanti.

Nah, itu dia ceritaku di hari ini, semoga menikmati yaa… Byee… 😊

#Random

Hii.. Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa judul tulisan kali ini #Random. Itu karena, hari ini aku memang akan menceritakan beberapa kejadian yang kualami kemarin secara acak.

Jadi kemarin, aku dan dua temanku sesama ‘Duta Literasi’; Tata dan Mas Donny, dipanggil untuk berkumpul ke Ruang Penelitian dan Pengembangan yang ada di sekolahku. Saat itu aku dipanggil oleh guru kelas 5 yaitu bu Zahro. Padahal waktu itu aku lagi enak-enak makan, eh… nggak taunya dipanggil. Jadi keselek deh 😭😅

Dan jelas saja aku kaget dan deg-degan saat dipanggil ke ruangan tersebut. Pikirku, ada apa ya? Lalu seperti biasanya saat aku kaget, aku langsung membayangkan hal yang tidak-tidak gitu, hehehe… Awalnya aku deg-degan dipanggil itu karena takut dimarahi, sebab di kelas 5 ini aku sering telat, wkwkwk… 😂 Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku merasa aneh juga dengan ketakutanku tadi. Soalnya mana mungkin kalau dimarahin sampai disuruh ke Litbang 😁

Ternyata saat masuk Litbang, aku melihat Tata sudah ada di sana. Tenang deh… Tak lama kemudian, muncul juga Mas Donny yang kalau tidak salah dijemput Bu Enik. Tapi, beberapa saat kemudian, deg-deganku datang lagi. Dan itu karena.. *drum roll*… kami bertiga ternyata diminta untuk rekaman suara untuk semacam bel tanda waktu kelas 4, 5, dan 6 harus masuk kelas.. Kalian pernah tahu suara pengumuman di stasiun kalau kereta akan datang kan? Nah, bel sekolahku dibuat semacam itu, dan kami pengisi suaranya 😆

Dan entah kenapa, kami bertiga langsung ketawa nggak jelas waktu dengar contohnya. Sampai-sampai guru yang mendampingi geleng-geleng melihat kami ketawa. Walaupun kami tertawa, bukan berarti kami sudah nggak deg-degan. Kami langsung saling tunjuk siapa duluan saat guru pendamping bilang kalau waktunya rekaman. Alhamdulillah.. Yang ditunjuk yang paling besar dulu, jadi Mas Donny deh yang duluan 😁   

Dan Alhamdulillah lagi, aku dapat melakukan perekaman suara ini dengan lancar. Walaupun memang harus diulangi sampai sekitar 4 kali sih.. 😅 Setelah Tata selesai rekam suara, kami kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran.

Cerita lain di hari yang sama, tepatnya saat pelajaran IPA, kami belajar membedah ikan! Wah, seru! Memang dari beberapa hari yang lalu, Bu Neneng (wali kelasku sekaligus guru IPA) mengatakan kalau hari Rabu kemarin kami akan diajak membedah ikan untuk mempelajari organ pernafasannya. Kami diminta untuk membuat kelompok masing-masing yang beranggotakan 5-6 anak. Dan anak-anak di kelompokku ada aku, Ghefira, Lify, Nazwa, Talitha, dan Zahra. Masing-masing kelompok diminta membawa satu ikan mujair untuk dibedah. Di kelompokku, yang membawa ikan mujair adalah Ghefira.

Sebenarnya kemarin yang membedah itu Bu Neneng, sementara kami ditugaskan untuk memperhatikan organ dalam ikan itu. Ikan di kelompokku adalah ikan terakhir yang dibedah Bu Neneng. Nah, tanpa sadar, Bu Neneng meninggalkan pisau yang dibuat membedah ikan di kelompokku. Lalu Ghefira malah memotong-motong kepala ikan itu sampai tak berbentuk lagi😝 sampai-sampai, Ghefira menemukan udang kecil di dalam tubuh ikan itu, lho!

Di-tengah Ghefira ‘membedah’ ikan itu, datang seorang guru kelas 6 yang aku kenal. Namanya Bu Fajar. Saat di tempat kami membedah ikan, Bu Fajar bilang kalau mencium bau amis ikan di deretan ruang kelas 5. Eh, ternyata ketemunya di depan kelasku. Ghefira masih sibuk dengan kegiatannya ‘membedah’ ikan. Saat Bu Fajar masih melihat-lihat ikan dari kelompok lain, Ghefira memotong bagian mata ikan itu dan dipegangnya tanpa sarung tangan! Aku melihatnya saja sudah jijik. Waktu kelompok kami menunjukkannya ke Bu Fajar, ia langsung bilang begini, “Ih! Kalian sadis juga ya ternyata!” Wkwkwk… 😂 Dan celetukan Bu Fajar itu disambung oleh cengiran kami 😁

Dan untuk akhir dari tulisan ini, aku akan menceritakan sesuatu yang sangaat menggembirakan bagiku. Itu adalah… Aku nggak jadi ketua kelas lagi! Horee…..!!! ‘Loh, kok nggak jadi ketua kelas malah seneng?’ Jelas saja aku senang, soalnya, dari beberapa hari yang lalu, aku mulai kurang nyaman menjadi ketua kelas. Selain karena tanggung jawabnya berat, juga karena aku kurang suka dengan pengurus yang sekarang. 

Aku mulai ingin mengundurkan diri dari tugas sebagai ketua kelas dari beberapa hari yang lalu. Saat aku cerita ke mamski, mamski bilang kalau aku boleh bilang ke Bu Neneng untuk mengundurkan diri dan menyampaikan alasannya. Aku mulai terpikir untuk bilang ke Bu Neneng kemarin setelah selesai membedah ikan. Sebelum bilang ke Bu Neneng, aku sempat bilang ke Ghefira kalau aku mau mengundurkan diri. Ghefira hanya bilang. “Ya sudah, nggak apa-apa kok. Kalau kamu memang nggak mau jadi ketua kelas, ya bilang aja ke Bu Neneng.” Alasan kenapa aku hanya bilang ke Ghefira dan bukan anak lain adalah, karena dia sudah menjadi sahabatku sejak kelas 3 . Selain itu juga kalau aku bilang ke anak lain, kemungkinan terbesar mereka akan bilang begini. “Loh Mai, kamu jangan mengundurkan diri po’o. Pliss..” Dan kalimat seperti itu nggak membantu banget bagiku.

Aku baru punya kesempatan untuk bilang ke Bu Neneng saat akan shalat Ashar berjamaah di sekolah. Saat itu, kelas memang kosong dan hanya ada Bu Neneng di dalam kelas. Jadi, aku bersama Ghefira segera bilang. Alhamdulillah.. Bu Neneng memperbolehkanku untuk tidak jadi ketua kelas lagi. Dan saat itu aku merasa seneeng bangeet.. Rencana awalnya, Bu Neneng akan bilang ke anak-anak kelasku yang lain hari ini sebelum pelajaran dimulai. Namun hari ini aku sakit dan memutuskan untuk menulis tulisan ini untuk kalian 😊

Nah itulah beberapa ceritaku kemarin. Sampai jumpa semuanya, byee… 🤗🤗🤗

Cerewetnya Dahlia

‘Hoaaeemm… Eh, tumben banget Dahlia masih tidur. Kalau gitu, aku tidur lagi aja, ah..’

‘Teeeett, teett, teeett..!!!’ Terdengar alarm di ponselku berbunyi nyaring. “Hei! Bangun pemalas!! Lihat dong jam-nya. Sudah jam setengah tujuh tau!!” Belum selesai alarm berbunyi, sudah terdengar sahutan saudara kembarku yang paling menjengkelkan. Ya, dia adalah Dahlia. Orang paling cerewet nomor 1 di rumahku ini.

“Iya, iya!! Ini aku sudah bangun!” Seruku. “Makanya dong, kalau bangun jangan kelamaan. Nih, aku aja udah bangun dari tadi. Udah ah, sana kamu mandi dulu. Habis mandi, langsung ke ruang makan. Jangan tidur lagi! Ngerti?” . “Iya, kakakku yang baik hati..!” Jawabku dengan nada mengejek.

Aku segera mandi dan ganti baju dengan cepat agar tidak kena omelan dari Dahlia. ‘Huuuh! Udah tau aku lagi enak-enak tidur malah dibangunin. Dia kelihatannya emang gak bisa deh, lihat orang lagi senang.’ Gumamku dalam hati saat mandi.

“Hai Bun! Hai Yah!” Kataku saat lari ke ruang makan. “Hai juga Dila..” Jawab orangtuaku. “Tumben bangunnya agak siang, Dil”. “Hehehe.. Iya Bun.. Kan hari Minggu.” Ujarku yang tidak menghiraukan Dahlia yang terlihat sedang menggelengkan kepalanya saat melihatku. “Tadi hampir aja kami tinggal, lho, Dil.” Kata Ayah. “Makanya, kan udah aku bilang berkali-kali, kalau bangun itu jangan kelamaan.” Ujar Dahlia yang mulai cerewet lagi. Ayah dan Bundaku langsung tertawa saat melihat wajah cemberutku. “Huuh… Nggak lucu tauu!” Seruku. “Sudah, ah, sarapan dulu.” Kata Dahlia sambil menyodorkan mangkok berisi sereal. “Terimakasih, Lia.” Kami semua segera makan dengan lahap.

“Bun, Yah, aku ke kamar dulu ya..” Ujarku sesaat setelah selesai makan. “Mau tidur lagi itu pasti..” Sayup-sayup terdengar suara Dahlia yang tidak kuhiraukan.

“Huh, kapan sih Dahlia bisa berubah agar nggak mencerewetiku terus? Andai aja ada sesuatu yang bisa merubah Dahlia..” Omelku di kamar. “Aku bisa membantumu gadis kecil…” Terdengar suara yang sangat mengerikan di area kamarku. “S-siapa kamu?!” . “Ah, aku tak akan memberi tahumu sampai kau menjawab pertanyaanku.. Apakah kau mau dibantu olehku?” . “Eh, hmm.. B-baiklah..” Jawabku dengan ragu-ragu. ‘Aku benar-benar takut mendengar suara itu. Jangan-jangan, dia adalah.. Ah, sudahlah, mungkin ini tak seburuk itu.’ . “Plop!!” . “Aah!!” Terdengar bunyi gelembung pecah yang diikuti dengan teriakanku. “Hah! Siapa kamu?!” Tanyaku kaget saat melihat seorang perempuan yang memakai gaun biru. “Jangan takut, gadis kecil..” Kata wanita itu sambil tersenyum sangat manis.

Aku sempat berfikir kalau ia adalah pemilik suara yang tadi. Namun, suara perempuan ini jauuh lebih bersahabat dan menyenangkan dari suara tadi yang sangat menyeramkan. “Oke, oke, namun siapa kamu?” . “Aku adalah ibu perimu, nak. Kau bisa memanggilku Miss Angel.” Aku sangat kaget dengan jawaban perempuan itu, atau tepatnya Miss Angel. “Apa! Ibu peri?! Tidak mungkin ada ibu peri di dunia ini?!” . “Karena kau belum tahu semua rahasia dunia ini..”

“Um, jadi…?” . “Jadi, aku akan membantumu untuk menghilangkan kecerewetan saudaramu..!” Katanya dengan nada ceria. “Oke, itu terdengar seperti rencana yang bagus.” Kataku kemudian “Bagaimana kau akan melakukannya?”

“Lihat ini.” Sesaat setelah ia mengucapkan itu, muncul semacam portal tepat di antaraku dan Miss Angel. Aku berseru kaget. “Wow!!” . “Nah, yang sekarang harus kau lakukan adalah masuk dalam portal tersebut.” Jelasnya. “Apa kau yakin, Miss?” Aku sangatlah takut untuk masuk ke portal itu. Bagaimana kalau aku tak bisa kembali? Atau bagaimana jika ada monster di sana? Itu bisa menjadi sangat mengerikan.

“Oh, ayolah, kau tak perlu khawatir. Aku bisa menolongmu jika terjadi sesuatu.” . “Oke, bye Miss Angel..!” Teriakku sambil masuk ke dalam portal. “Bye, Dila…!” Sayup-sayup terdengar seruan dari Miss Angel dari luar portal.

“Huwaaa…!” Kepalaku terantuk lantai. Aku segera melihat sekitar. ‘Eh, inikan kamarku. Hmm.. Pasti ada kesalahan. Ah, sudahlah, setidaknya aku tidak terdampar di tempat lain.’ Gumamku.

“Dila.. Ada apa..?” . “Eh.. Hehe, aku tidak apa-apa kok, Lia.” Jawabku. “Oh, ya sudah.” Dahlia pun sager berjalan melaluiku. ‘Aneh, kalau ada kejadian seperti ini pasti dia sudah mencerewetiku. Tapi, nggak apa-apa deh daripada dia cerewet terus.’

Hari terus berlalu, tiap hari Dahlia tidak mencerewetiku. Entah kenapa, aku makin tidak nyaman dengan keadaan ini. Padahal biasanya, aku paling benci saat Dahlia mencerewetiku. Sekarang, justru kebalikannya.

Berkali-kali aku mencoba untuk memanggil Miss Angel. Tapi itu tidak berguna. Miss Angel tidak muncul juga. Walaupun aku tahu kemungkinan Miss Angel tidak muncul, aku tetap mencobanya malam ini.

“Miss Angel! Tolong munculah!” Seruku. ‘Plop!” Ada suara gelembung pecah seperti saat Miss Angel muncul di kamarku beberapa hari yang lalu. “Miss Angel!” Teriakku begitu muncul perempuan bergaun biru yang kukenal. “Ada apa, Dila?” . “Miss, tolonglah.. Aku tak ingin berada di sini. Aku tidak suka dengan Dahlia yang tidak cerewet..!” Ujarku sambil menangis. “Baiklah, nak..”

Seperti beberapa hari yang lalu, Miss Angel membuat portal lagi. Tanpa aba-aba, aku langsung masuk ke dalam portal itu.

“Dahliaa…!!!” Seruku saat aku kembali di kamarku. Dahlia yang melintas di luar kamarku segera masuk dan dilanjutkan oleh pelukanku. “Eehh..! Kenapa sih, Dil?! Mimpi buruk ya waktu tidur barusan? Makanya, kalau mau tidur itu, doa dulu dong..!” Kata Dahlia. “Eh, tidur? Aku tadikan nggak tidur Lia..” Jawabku bingung. “Jelas-jelas aja kamu tidur tadi. Udah, ah, sana shalat Dhuhur!” Ujar Dahlia. “Huh, dasar sleepyhead..” Omelnya sebelum keluar dari kamarku.

Meninggalkanku yang bengong sendiri..

Kue Ulang Tahun Papski

Hai semuanya..!! Hari ini, aku akan menceritakan pengalamanku membuat kue untuk ulang tahun papski beberapa hari yang lalu.

Awal ide untuk membuat kue itu adalah waktu aku dan mamski sedang belanja di salah satu supermarket. Di tengah belanja, aku dan mamski mampir melihat bagian bahan-bahan kue atau makanan. Dan kadang-kadang, kalau kami sudah mampir, kami akan saling tunjuk deretan tepung-tepung yang ada hanya untuk iseng. Nah, saat itu salah satu dari aku dan mamski (maaf aku lupa 😁) menunjuk bahan untuk membuat kue Blackforest Kukus. Dan begitu kami ingat ulang tahun papski yang waktu itu akan datang beberapa hari lagi, bahan tersebut langsung sepakat kami beli. Ya, kami akan mencoba membuat sendiri kue ulang tahun untuk papski meskipun sebelumnya belum pernah melakukan.

Aku dan mamski baru membuat kue Blackforest-nya di weekend lalu saat papski sudah di rumah. Tepatnya, kami membuatnya pada hari Sabtu sore saat papski briefing Suara Anak (tulisan tentang acara Suara Anak di hari Minggu-nya mungkin akan kubuat setelah ini). 

Sesaat setelah papski berangkat briefing ke Surabaya, aku dan mamski mulai mempersiapkan bahannya dan mulai membuat kue. Memang karena aku dan mamski keahliannya bukan membuat kue, jadi ada beberapa kekacauan kecil yang terjadi. Yang pertama adalah saat me-mixer adonan dengan kecepatan tinggi, adonan itu sampai belepotan ke pinggir wadah, mengenai tangan mamski, sampai kabel mixer pun ikut tercelup-celup, hihihihi…

Ketika menghias kue yang sudah matang juga begitu. Aku dan mamski awalnya merencanakan untuk menaburkan meises di pinggir kue. Namun kami bingung gimana cara nempelkan meises itu ke samping setelah kue diolesi lapisan tipis whipping cream. Akhirnya aku punya ide semacam melempar-lemparkan meises itu sehingga menempel ke whipping cream. Soalnya kalau dilekatkan pakai tangan, malah creamnya yang ikut nempel ke tangan. Tapi ya gitu deh, akhirnya berantakan banget 😁

Lalu keribetan yang ketiga adalah, saat menghias bagian atas kue dengan whipping cream, whipping cream-nya meleleh terus saat ditaruh di kue. Jadi setiap beberapa menit, selalu diantara aku atau mamski, pasti ada yang bilang gini, “Eh, udah mulai cair! Ayo masukin kulkas lagi!!” Wkwkwk… Jadinya bolak-balik si kue dan whipping cream harus keluar-masuk kulkas 😅 Tapi setidaknya, kue itu berhasil juga diselesaikan. Sampai-sampai mamski bilang, “Udah deh mems, kita sekali ini aja bikin kuenya. Ribet banget soalnya…” 😁


Rencana sebenarnya adalah mengeluarkan dan memakan bersama kue itu saat papski pulang dari Surabaya. Namun ternyata malam itu papski baru pulang sekitar jam setengah 11 malam. Jadi, kue itu cuma ditunjukkan aja ke papski, dan baru dikeluarkan lalu dimakan bersama besok paginya. Dan Alhamdulillah, kuenya enaaak… Ya walaupun agak keras karena habis dimasukkan kulkas. Tapi itu sih tidak apa-apa. Kan yang penting rasanya nggak aneh gitu, hehehe…

Nah, itulah teman-teman, ceritaku saat membuat kue untuk papski. Semoga kalian menikmati ceritanya ya.. Bye… 😊

Menjadi Murid Kelas 5

Hewwooo 👋🏻😅 Nggak nyangka, sekarang aku telah menjadi murid kelas 5. Jadi, di tulisan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku di tiga hari pertama menjadi murid kelas 5. 

Aku mulai masuk sekolah tanggal 20 Juli untuk Halal Bihalal. Oya, aku sekarang masuk di kelas 5 Abu dengan wali kelas Bu Neneng. Tahun lalu, Bu Neneng adalah wali kelas 4 Khalid, dan wali kelas 5 Abu adalah Bu Am. Tapi tahun ini, Bu Am menjadi wali kelas 6. Jadi wali kelasku sekarang adalah Bu Neneng. Tapi di hari pertama sekolah setelah libur panjang itu, Bu Neneng tidak masuk. Makanya setelah acara Halal Bihalal dan bersalam-salaman dengan seluruh guru, murid-murid kelasku kembali ke kelas dan bermain aja sampai waktu pulang. Asik deh… Hehehe…. 😁

Memang karena perpindahan dari kelas 4 ke kelas 5 diacak, aku tidak lagi sekelas dengan Naila dan Hanum seperti dulu. Namun setidaknya, aku masih sekelas dengan Ghefira. Jadi aku punya teman untuk diajak mengobrol. Tapi sebenarnya, kalaupun aku tidak sekelas dengan Ghefira juga tidak apa-apa, karena memang sebagian besar dari murid di kelas 5 Abu sudah kukenal walaupun ada beberapa anak yang belum pernah kuajak mengobrol.

Besuknya di tanggal 21, setekah berdoa pagi, Bu Neneng mengawali kelas dengan membacakan SOP (aku tidak tahu itu singkatan dari apa, pokoknya SOP itu semacam tata tertib gitu) untuk kelas 5. Waktu dibacakan, ada 7 SOP di kelas 5 yang isinya seputar adab berperilaku. Setelah itu, diadakan pemilihan ketua kelas. Ada 4 calon ketua kelas yang dipilih Bu Neneng. Yaitu, Husain, aku, Evan, dan Dinda. Dari 4 calon ini, murid-murid diminta memilih. Dan setelah pemilihan, akulah yang mendapat skor terbanyak. Jadi, alhamdulillah, aku menjadi ketua kelas. Skor Husain dan Evan sebenarnya sama, namun Bu Neneng memilih Husain menjakil ketua kelas dan Evan menjadi keamanan. Sementara Dinda menjadi Bendahara. Oya, Bu Neneng juga memilih Gendis, untuk menjadi Sekretaris dan Zahra menjadi pengurus perpustakaan kelas. Sejujurnya, di awal aku sendiri tidak tahu kalau ada bagian pengurus perpus kelas, kalau aku tahu dari awal, pasti aku akan jauuuh lebih mau jadi pengurus perpustakaan kelas daripada menjadi ketua kelas. Namun tidak apa-apa deh, setidaknya aku akan dapat pengalaman baru.

Besoknya, hari ketiga masuk, aku sangaat bersemangat karena ada extrakurikuler lagi, horee…! Tentu saja, aku tetap memilih paduan suara. Karena aku tidak akan di seleksi lagi kalau jumlah murid di extra paduan suara terlalu banyak. Soalnya kan, tahun lalu aku sudah ikut dan menjadi anggota tetap sampai kelas 5 ini. Saat aku di kelas tempat latihan paduan suara, aku melihat banyaak sekali anak kelas 4. Namun ada juga segelintir anak-anak kelas 5 yang baru masuk paduan suara tahun ini dan harus diseleksi.

Saat seleksi itu anak-anak paduan suara yang lama alias yang senior (termasuk aku, hehehe….) memberikan contoh bagi anak-anak yang baru masuk. Kami diminta menyanyikan 2 lagu. Setelah itu, kami diminta keluar karena ada seleksi untuk anak-anak yang baru masuk. Baru saat seleksi selesai, kami dipersilahkan masuk dan diminta untuk menyanyikan 2 lagu lagi. Oya, saat kuhitung, anak-anak yang lama itu ada 22 anak, sementara yang baru itu sekitar 29 anak. Kata Bu Henny, salah satu pelatih paduan suara, anggota paduan suara kalau bisa 35 orang. Tapi kalau memang terpaksa, anggota paduan suara bisa ditambah maksimal 40 orang. Jadi anak yang mungkin tidak lolos dari seleksi itu akan ada sekitar 18 anak. Namun kami masih belum diberi tahu siapa yang tidak lolos seleksi. Jadi mungkin anak -anak yang baru diseleksi itu saat ini harap-harap cemas gitu deh, menunggu pengumuman minggu depan. Sama seperti aku saat diseleksi dulu.

Nah, itulah ceritaku teman-teman. Bagaimana dengan cerita kalian? Semoga seru juga ya.. 😊 

Aku berharap di kelas 5 ini, aku bisa menjadi ketua kelas yang baik dan tidak sering telat 😁 Selain itu, juga lebih rajin dan disiplin untuk belajar karena memang pelajaran pasti akan bertambah sulit.