Cerita Serial 4 Bersaudara Karangan Tere Liye

Halo semuanyaa.. 🙂 Beberapa hari ini aku menyelesaikan buku serial kakak-adikyang ditulis oleh Tere Liye. Jadi, satu buku itu bercerita tentang satu anak. Serialnya ada 4 buku, judulnya Amelia, Burlian, Pukat, dan Eliana. Eliana itu adalah kakak yang paling tua, kakak nomor 2 itu Pukat, yang ketiga Burlian dan yang terakhir Amelia. Mereka tinggal di salah satu desa yang berada di Pulau Sumatera. Sebenarnya bapak empat bersaudara itu orang yang cukup kaya. Tapi karena ada masalah, akhirnya bapak empat bersaudara itu memutuskan untuk pindah ke desa (cerita tentang bapaknya bisa dibaca di buku Amelia).

~>* Amelia *<~

Amelia ini tidak suka untuk menjadi anak bungsu. Karena selalu diremehkan, seperti saat dibilang suka mengompol, suka menangis, dan lain-lain oleh kakak-kakaknya maupun kakak kelasnya di sekolah. Lalu yang dia tidak suka lagi itu karena selalu disuruh-suruh oleh kakak sulungnya, yang bernama Eli atau Eliana. Tapi karena dihibur bapaknya dan diberitahu kalau anak bungsu juga punya hal menyenangkan, seperti salah satunya lebih disayang orangtua. Karena kata-kata bapaknya itu, akhirnya Amelia tidak takut lagi kalau diremehkan saudaranya atau kakak kelasnya.

Ada pengalaman saat dia merasa kalau kakak sulungnya atau Eliana tidak menyayanginya lagi karena lebih suka mengomel dan menyuruh-nyuruh. Sampai pada suatu saat ia diminta Eliana untuk ikut membantu mencari kayu bakar. Karena tidak hati-hati salah satu kakinya lecet karena tergores benda yang cukup tajam. Ketika pekerjaan akan selesai hujan turun, jadi Eliana harus menggendong Amelia sekaligus membawa kayu bakar. Karena itu Amelia sadar kalau sebenarnya Eliana mengomel karena tindakannya yang tidak sopan atau semacamnya.

~>* Burlian *<~

Burlian ini kata mamaknya (ibunya) sejak dalam kandungan sudah ada yang berbeda. Ada cerita saat Burlian masih dalam kandungan, mamaknya mendengar suara burung-burung yang mengerikan, asal suaranya dari makam di belakang rumah. Akhirnya, mamaknya pergi ke makam lalu melemparkan batu-batu sampai suara burungnya berhenti. Saudara-saudaranya waktu di kandungan tidak ada yang seperti itu. Jadi, kata orangtuanya ia adalah anak yang spesial.

Salah satu hal seru yang dialami Burlian adalah saat ada acara ABRI Masuk Desa. Selama ada acara ABRI Masuk Desa yang diadakan selama beberapa hari, sekolah yang ada di desa mengadakan acara juga yang dibantu juga oleh program ABRI. Acaranya yang pertama itu ada kemah di sebelah hutan di desa yang ditinggalinya, lalu juga ada lomba lari. Ceritanya saat kemah ada yang agak membuatku tegang, saat itu kelompok Burlian diberi tugas untuk menyiapkan makanan. Tapi Burlian dan teman-teman satu kelompoknya tidak tahu mau memasak apa, akhirnya mereka tahu kalau di dalam hutan ada ayam liar. Akhirnya Burlian dan kelompoknya masuk ke hutan untuk mencari ayam liar. Tidak disangka ternyata mereka sudah masuk melebihi jalan setapak yang ada. Untungnya Burlian punya ide, dia memanjat salah satu pohon di hutan desa itu. Akhirnya, Burlian melihat ada tempat kemah dan kelompok ABRI, lalu Burlian dan kelompoknya pulang dengan tangan kosong.

~>* Pukat *<~

Pukat ini selalu dikatakan orangtuanya sebagai anak yang pintar. Dan saat dewasa Pukat memang akhirnya menjadi orang yang hebat dan pintar seperti kata orang tuanya itu. Karena kepintarannya itu, dia dapat menyelesaikan beberapa masalah. Seperti saat warung tetangganya yang bernama Bu Ahmad tutup dikarenakan anaknya yang sakit panas sehingga tidak dapat ditinggal untuk pergi membuka toko.

Lalu, Pukat bersama gurunya yang bernama Pak Bin yang juga tahu masalah tersebut mempunyai rencana agar toko Bu Ahmad kembali buka. Caranya mereka menaruh sebuah kaleng di meja toko, lalu disebelahnya ada daftar jualan. Jadi nanti kalau ada orang yang mau beli tinggal mengambil barang yang mau dibeli lalu menaruh uang yang akan dibayar di kaleng itu.

~>* Eliana *<~

Pengalaman di buku Eliana itu salah satunya adalah cerita saat Burlian, Pukat beserta teman-temannya seriiing sekali menghabiskan tinta di bolpoin dan menghabiskan buku. Sampai suatu hari Pak Bin menemukan sebuah selebaran di salah satu kolong meja. Eliana melihatnya, dibaliknya tertulis nama salah satu teman dari Burlian. Isi selebarannya mengatakan kalau sebentar lagi hari Kiamat dan mengatakan bahwa kalau ada orang yang menyalin dan menyebarkan selebaran tersebut agar menjadi 20 akan mendapat hadiah. Beberapa ada yang takut dengan isi selebaran itu, dan beberapa lagi juga menyalin dan menyebarkannya, seperti Burlian, Pukat dan kawan-kawannya. Untung saja kejadian tersebut dihentikan oleh Pak Bin dan anak-anak yang menyalinnya dihukum oleh guru mengaji di desa yang galak, namanya Nek Kiba.

~~~~~~~~~~~

Buku serial empat bersaudara ini menurutku menarik dan bisa membuatku seperti juga mengalami ceritanya. Selain itu, buku serial ini juga mengandung banyak pelajaran (aku tidak menyebutkan pelajarannya ada dibagian mana saja, tapi nanti kalian cari tahu sendiri yaa… Hihihi.. ). Lalu soal penggunaan kata, buku ini juga bagus dan cukup mudah dipahami. Walaupun memang ada yang masih memakai bahasa daerah tempat tinggal empat bersaudara itu, yaitu di Pulau Sumatera, jadi beberapa kalimat aku harus lama membacanya agar mengerti artinya. Tapi memang secara keseluruhan buku ini bagus kok 😀

9 thoughts on “Cerita Serial 4 Bersaudara Karangan Tere Liye

  1. Halooo Damai masih ingat kakak? 🙂
    Kakak juga suka banget ceritanya Tere Liye lhoo… Apalagi buku Eliana dan Amelia. Damai sudah baca buku yang Ayahku (bukan) Pembohong dan Hafalan Shalat Delisa beluum? Bagus lhoo 🙂
    Ohya, sedikit koreksi, yang cukup berada itu mamaknya Amel, Burlian, Pukat, dan Eli, bukan bapaknya… Kalau bapaknya memang tinggal di desa ^_^

    • Waaah sama, kalau yang Hafalan Shalat Delisa sudah kak. Sekarang aku lagi baca yang Ayahku (bukan) Pembohong. Oh, maaf kak kalau salah. Soalnya memang aku masih agak-agak bingung sebenarnya mana yang cukup berada dulunya 😀

  2. Ping balik: Serial Anak-Anak Mamak - Blog Bukik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s