“Malu Bertanya Sesat di Jalan”, Cukupkah Pepatah Ini?

Sejak kecil, satu kalimat yang selalu muncul dalam kertas ujian, dalam buku pelajaran bahasa, dan terus digaungkan oleh guru di masa TK dan SD adalah:

“Malu bertanya, sesat di jalan.”

Pepatah ini tentu baik artinya. Mengajarkan kita untuk tidak segan bertanya atau mencari bantuan orang lain ketika sedang menghadapi persoalan.

Tapi pepatah ini seharusnya tidak menyebabkan misinterpretasi yang akan berdampak tidak diinginkan pada murid, atau siapapun yang menggunakannya. Sebagai contoh, apakah melontarkan pertanyaan itu harus selalu didahulukan? Ataukah ada hal lain yang seharusnya bisa lebih dulu diupayakan untuk mendapat informasi?

Seharusnya, ada usaha terlebih dahulu dalam menyelesaikan masalah tersebut sebelum bertanya.

Namun akhir-akhir ini, saya semakin sering menemukan contoh-contoh misinterpretasi dan misimplementasi dari pepatah ini, dan saya yakin banyak orang pernah menemukan kejadian serupa. 

Sebagai contoh, ketika sedang mengikuti workshop A, moderator sudah memberitahu berkali-kali kepada peserta bagaimana mereka bisa mengakses materi workshop. Tapi ketika sesi tanya jawab, kebanyakan dari mereka biasanya justru mengulang-ulang pertanyaan yang sama: “Materi presentasinya bisa diunduh lewat mana ya?”.

Contoh lain, saat mengikuti lomba B di masa pandemi. Sejak awal, panitia sudah menjelaskan panjang lebar mengenai jadwal acara, zoom link yang akan digunakan, seluruh materi yang perlu dipersiapkan, serta mengingatkan peserta bahwa semua informasi tersebut bisa langsung dibaca di handbook yang sudah dibagikan. Dan lagi-lagi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sesi tanya jawab biasanya adalah: “Kak, zoom link-nya ada di mana?”; “Kak, di hari X nanti akan ada berapa kegiatan ya?”. Padahal, sudah jelas kan jawabannya apa dan dapat dibaca dimana?

Rasanya, tidak adanya penjelasan terkait konteks di balik pepatah “malu bertanya, sesat di jalan” membuat masyarakat kita menjadi terlalu nyaman bertanya hal-hal kecil, dibandingkan berusaha untuk menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu. Bahkan bila usaha yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan itu secara mandiri sebenarnya cukup dengan cermat membaca

Lantas, apakah misimplementasi dari pepatah ini adalah alasan mengapa tingkat literasi di Indonesia yang masih rendah?

Bisa jadi, sebagai faktor penentu. 

Ketika minat membaca murid di Indonesia rendah, kesenjangan akses buku dan perpustakaan bukanlah faktor penentu utamanya, bila program literasi yang dijalankan sekolah tidak optimal. Di berbagai kota besar misalnya, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) biasanya hanya mewajibkan murid untuk membaca selama 15 menit sebelum kelas. Untuk murid-murid yang belum terbiasa untuk membaca, cara ini kurang memberikan tujuan dan motivasi yang jelas.

Akan berbeda jika program yang dilakukan bisa mengimplementasi proses membaca sebagai sebuah kebiasaan dan cara pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari. Seperti dengan memberikan waktu di setiap mata pelajaran untuk siswa mencari informasi secara mandiri tentang suatu topik yang sedang dipelajari di kelas. Entah dengan memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah atau dengan mencari tambahan bacaan di internet. Dengan ini, tujuan, motivasi, dan kebiasaan membaca pada murid akan bisa ditingkatkan.

Akibat dari pelaksanaan program literasi yang belum optimal, misinterpretasi pepatah “malu bertanya, sesat di jalan” membuat orang-orang berfikir bahwa semua hal yang ingin diketahui harus segera ditanyakan. Dan akhirnya bisa menjadi pembenaran untuk mereka tidak merubah kebiasaan tersebut, hingga petunjuk tertulis pun pada akhirnya sia-sia karena tidak dicermati.

Hal ini menunjukkan besarnya dampak pepatah kepada kebiasaan masyarakat. Mungkin memang akan sulit untuk mengubah pepatah tersebut demi memperbaiki keadaan. Tapi paling tidak, kesadaraan akan kebiasaan masyarakat yang seperti ini dapat menjadi titik awal untuk membenahi apabila nantinya membuat suatu kalimat atau slogan yang akan mengedukasi masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s