Belajar Menulis Puisi

Beberapa hari yang lalu, aku sempat akan diikutkan lomba puisi oleh sekolah. Di lomba puisi itu peserta tidak membuat puisinya di tempat lomba, melainkan di rumah lalu puisinya dikirim ke panitia. Aku diminta untuk membuat 3 buah puisi yang bertema televisi dan lalu guru pembimbing yang akan mengirimkan naskahnya. Murid yang diikutkan lomba tidak hanya aku saja, namun juga ada Luna, Naila, Nina, Mbak Khansa, Mbak Sasa, dan beberapa kakak kelas yang lain.

Tapi pada akhirnya aku tidak jadi ikut lomba puisi tersebut. Ceritanya, di awal murid-murid diminta menulis puisi sendiri-sendiri, lalu filenya disimpan dalam flashdisk yang nantinya akan diberikan ke guru pembimbing untuk dicetak dan dikirimkan oleh sekolah. Ternyata setelah semua membawa file ke sekolah, flashdisk-nya malah dikembalikan dan disuruh untuk mencetak sendiri. Jadi aku dibantu mamski mencetak puisiku di rumah. Tapi setelah dicetak sendiri dan besoknya diserahkan, format penulisannya ternyata salah. Padahal sebelumnya tidak diberitahu. Dan saat hari itu akan mencetak lagi di rumah, ternyata tinta pinternya habis dan tidak sempat membeli karena sudah malam. Karena itu aku pun tidak jadi mengikuti lomba karena besok paginya tidak bisa mengumpulkan cetak puisiku ke guru pembimbing.

Aku sempat kecewa sebenarnya, tapi tidak apa-apa. Kata mamski yang penting sudah bisa belajar menulis puisi. Nah, daripada sia-sia puisinya, kugunakan saja ketiga puisiku itu untuk memperbarui isi blog. Ini adalah ketiga puisinya :

KOTAK AJAIB

Ia tidak sangat besar
Tidak juga begitu kecil
Kadang berwarna
Kadang hitam putih

Kumelihat banyak hal disana
Ada kabar berita
Ada pengetahuan
Ada musik yang mengalun indah

Ada pula beragam cerita
Tentang indahnya dunia anak
Tentang hidup keluarga
Tentang harapan dan cita-cita

Ia sungguh seperti teman,
menemani di kala senggang
Meski kadang hal buruk datang
Jika lama bersamanya

Ya,
Ia memang tak selalu baik
Ada banyak kisah tak pantas
Yang harus kita hindari

Kotak ajaib si televisi,
Moga yang baik dari hari ke hari
Semakin banyak mewarnai
Membawa rasa senang di hati

TELEVISI

Acaranya sungguh banyak
Dengan ragam saluran yang tersedia
Memberi kita kemudahan
Mencari segala yang ingin kita lihat

Televisi
Menjadi sarana informasi
Dengan penuh warna-warni
Berita, cerita, pengetahuan, juga seni

Namun di televisi
Tak hanya ada hal baik
Ada pula segala yang tak baik
Yang harus kita hindari

Cerita yang tak sesuai usia
Contoh perbuatan yang jahat
Yang setiap saat
Akan dapat mempengaruhi kita

Karenanya
Jangan tonton yang tak pantas
Jangan lihat yang tak jelas
Semua yang tidak semestinya

Kita harus pandai memilih
Tak sekedar yang kita gemari
Tak hanya yang kita sukai
Tapi juga sesuai hati nurani

TELEVISIKU

Ada dua di rumahku
Satu di kamar satu di ruang makan
Tidak terlalu besar
Tidak pula sangat kecil

Kadang aku menontonnya
Kadang juga tidak
Semua menonton ketika ingin
Tidak selalu setiap hari

Nenek suka berita dan ceramah
Aku dan ibu suka acara memasak
Kami menonton sambil istirahat
Atau sambil mengobrol dan makan

Televisiku,
Kuberterima kasih padamu
Meski tak sering melihatmu
Tapi kau telah membantu

Menemani ketika sepi
Menghilangkan rasa bosan
Memberi pengetahuan
Yang aku butuhkan

Bagaimana teman-teman, ketiga puisiku ini cukup bagus tidak? 🙂

One thought on “Belajar Menulis Puisi

  1. sdh cukup bagus, kok, mai. Tapi, di ceritamu kali ini, kayaknya kmu lgi gk beruntung, ya, mai. Tapi, jgn bersedih! Siapa tahu nanti kmu bisa ikut lomba puisi lagi. Semangat, ya!! 🙂 😉 😀 >0<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s