Ke Rambut Monte Lagi

Hai teman-teman..! Maaf kalau kalian menunggu agak lama lanjutan cerita liburan tahun baruku. Sebab, dari 2 hari yang lalu aku sakit sehingga tidak bisa menulis di blog ini. Tapi sakarang, aku sudah baikan, jadi aku bisa melanjutkan ceritaku.

imageKalau dilihat dari gambar di atas, coba tebak aku saat itu berada di mana……? Kalau kalian menjawab Rambut Monte, jawaban kalian benar!!! Horeee…! Wkwkwkwkwk… 😁 Jadi liburan tahun baru kemarin memang aku pergi ke Rambut Monte lagi. Jadi kalau kalian mau lihat perjalanan pertamaku ke Rambut Monte, silahkan lihat tulisanku yang berjudul ‘Seminggu Libur Lebaran’.

image

Aku ke sana bersama mamski, papski, kakung, mbak Risma, bude Raras, bapak Niknok, Ilham, dan Sena. Saat kami sampai di sana, kami melihat beberapa hal yang ada di Rambut Monte telah berubah. Sekarang, kendaraan harus parkir di luar, lalu juga ada 3 monyet di dekat pintu masuk. Lucunya, saat kami masuk, salah satu monyet di situ ada yang mengambil sebungkus makanan ringan milik pengunjung yang jatuh dan ternyata masih ada isinya, lalu memakan isinya itu. Lalu monyet yang lain ada yang sibuk menggaruk-garuk badannya sampai papan tempat mereka duduk bergoyang-goyang. Sementara monyet ketiga yang paling kecil, sibuk mengajak monyet yang gatal-gatal bermain hingga monyet yang sedang gatal-gatal agak kesal hingga melompat-lompat seperti marah hingga membuat papan bergoyang keras.

image

Setelah melihat monyet, kami sempat berkeliling area Rambut Monte dulu agar tahu apa saja yang berubah. Dan sebab kami tahu di Rambut Monte ada sungai, kamipun main air lagi di sana seperti dulu. Ilham dan Sena kami bawakan ganti karena kami juga tahu kalau baju mereka mungkin akan basah. Saat main air itu aku juga diberitahu papski peribahasa yang berbunyi “Air beriak tanda tak dalam”. Artinya orang yang banyak omongnya biasanya tidak pandai. Peribahasa ini ternyata memang sama dengan kenyataannya di air beriak. Saat aku melihat bagian air yang beriak, aku kira itu agak dalam. Tapi begitu aku mencoba menginjakkan kaki di air yang beriak itu, ternyata memang lebih dangkal. Jadi aku percaya peribahasa yang diberitahu papski. Dan aku jadi percaya juga bahwa air yang tenang bisa jadi justru lebih dalam.

imageSambil menunggu Ilham dan Sena berganti baju, aku, mamski dan papski menunggu di pinggir kolam. Sementara yang lainnya kecuali mbak Risma, bude Raras, Ilham dan Sena berada di bawah bangunan (semacam balkon) yang digunakan untuk melihat pemandangan sekitar kolam dari atas. Aku, mamski dan papskipun langsung pergi ke bawah bangunan tersebut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba datang mas Dimas dan bapak Ati yang ternyata menyusul ke rambut monte naik motor.

imageSetelah itu mamski mengusulkan untuk pergi ke bendungan Sumberdandang yang bisa ditempuh dari Rambut Monte dengan jalan kaki sekitar 100 meter saja. Yang ikut ke Sumberdandang hanya aku, mamski, papski, mbak Risma, dan mas Dimas, karena awalnya kami tidak tahu seberapa jauh jarak Rambut Monte dan Sumberdandang dan seperti apa rutenya. Saat berjalan kaki ke Sumberdandang itu, kami hampir nyasar karena salah jalur. Untung saja kami diingatkan oleh penduduk setempat, jadi tidak kebingungan lagi. Waktu sampai di bendungan Sumberdandang, airnya biruuuuuuu bangeeet… Tapi karena namanya bendungan, airnya memang dalam sekali. Meskipun ada yang bermain air dengan ban, menurutku ini bukan tempat yang cocok untuk berenang.

imageSaat sudah selesai melihat-lihat, kami segera kembali ke mereka yang tidak ikut ke Sumberdandang untuk bersiap pulang. Di perjalanan pulang, mas Dimas ikut naik mobilku sementara bapak Ati tetap naik sepeda motor. Sepeda motor bapak Ati langsung kembali ke rumah nenek, sementara mobilku pergi ke arah Ngantang untuk mencari Durian dulu.

imageAku suka dengan Rambut Monte dan beberapa perubahannya. Tapi yang aku sayangkan adalah bangunan balkonnya menutupi bagian air yang sangat jernih dan berwarna kebiruan. Kalau dulu yang ada cuma semacam gubuk kecil yang menurutku malah lebih bagus.. 😊

One thought on “Ke Rambut Monte Lagi

  1. Ping balik: Judul Buku atau Naskah Dulu? Kisah Penulisan Buku Kedua - Blog Bukik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s