Pengalaman Trial Class di Sekolah Cikal Surabaya

Haiii!!!

Sudah semester baru ya sekarang. Aku naik kelas 6. Tahun depan aku sudah SMP. Nah, hari ini aku akan menuliskan pengalamanku tadi pagi sampai sore mengikuti Trial Class di Sekolah Cikal Surabaya. Alasanku ikut program ini karena tahun depan aku bermaksud mendaftar SMP di Cikal, dan sebelumnya aku mau tahu dulu bagaimana rasanya bersekolah di sana.

FullSizeRender.jpg

Dari pagi, aku sudah bangun dari jam 4 lewat, lalu melakukan rutinitasku seperti biasa: Shalat Subuh, sarapan, lalu mandi. Aku berangkat jam 6 pagi ke Sekolah Cikal yang ada di Surabaya Barat. Memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk ke sana. Tidak selama yang aku duga sebelumnya ternyata. Apalagi jalanan tadi bisa dibilang cukup lancar.

Tapi seperti biasa, aku merasa deg-degan saat mau berangkat. Biasa, kan mau masuk ke lingkungan yang aku belum pernah tahu. Aku tidak tahu apakah teman-teman di sana akan ramah atau tidak, kelasnya akan asik atau tidak, gurunya seperti apa, dan pikiran-pikiran yang lainnya. Meskipun memang deg-deganku tidak separah dulu saat hari pertama aku ikut kelas Junior Journalist di Sekolah Cikal Cilandak, sebab kalau sekarang aku sudah punya semacam gambaran bagaimana rasanya nanti.

Sampai di sana, aku diantar papski ke kelas 6 yang akan aku ikuti pelajarannya. Dan sama seperti pengalamanku dulu di Cikal Cilandak, murid-murid di kelas ternyata langsung mengajakku berkenalan. Rasanya senang sekali, jadinya aku nggak khawatir bakal merasa sendirian seharian di sana. Jadi tidak terlalu canggung.

Saat sudah banyak anak yang datang, dimulailah kegiatan kelas hari ini dengan ‘circle time’. Di circle time murid-murid duduk di depan kelas secara melingkar dan (untuk kali ini) menceritakan kegiatan weekend mereka masing-masing.

Ada yang weekend kemarin ikut lomba renang, ada yang ke rumah neneknya, dan masih banyak lagi. Sementara aku sendiri cerita kalau weekend kemarin jalan-jalan ke Mojokerto untuk merayakan ultah papski.

Selesai circle time, pelajaran pertama adalah English. Di pelajaran ini, kami diberi tugas untuk membuat tulisan tentang rutinitas kami dengan minimal 500 kata. Walaupun agak-agak sulit, menulis dengan bahasa Inggris seperti ini membantu untuk benar-benar belajar bahasa Inggris dengan maksimal dan memahaminya dengan baik. Sebab kami bisa mempraktekkannya langsung dan bukan yang hanya mendengarkan penjelasan guru.

Setelah English, pelajaran selanjutnya adalah Visual Art. Dan selesai itu, saatnya kami istirahat. Aku mengambil bekalku yang sudah disiapkan mamski tadi pagi dan langsung menuju kantin. Dan yang aku rasakan selama makan bekal di kantin benar-benar beda dengan keadaanku di sekolahku yang sekarang.

Di sekolahku, hanya sedikit guru yang mau makan di kantin karena kebanyakan memilih untuk makan di ruang guru atau ruang kelas. Kalaupun ada yang makan di kantin, mereka lebih memilih untuk mengobrol dengan sesama guru dan sibuk dengan kesibukan / tugasnya masing-masing.

Sementara di Cikal ini, hampir semua guru ikut makan di kantin dan benar-benar mengobrol  atau bahkan bercanda dengan para murid. Jadi relasi antara murid dengan guru itu bisa dibilang dekat. Akrab sekali.

Satu hal lagi yang kuperhatikan selama satu hari trial class di sana adalah, jika ada PR dan kemudian ada murid yang belum selesai mengerjakan, guru-guru tidak memarahi mereka. Guru yang sedang mengajar akan meminta murid untuk menyelesaikan PR mereka yang belum selesai itu.

Walaupun terlihat aneh banget, sebagai murid, menurutku cara ini bisa jadi lebih efektif. Karena kalau kita dihukum atau dimarahi dulu, pasti ada rasa kesal di hati. Dan efeknya pada pr-pr selanjutnya, kita menyelesaikan pr itu semata-mata karena tidak ingin dimarahi, tidak ingin kena hukuman, dan bukan karena ingin belajar dengan sungguh-sungguh.

Selain English dan Visual Art, hari ini aku juga belajar Math. Materi yang dibahas tadi adalah tentang bentuk bilangan yang digunakan di beberapa tempat atau suku. Yang sedang kami pelajari saat itu adalah Bilangan Romawi, yang kemudian membahas pula Suku Maya, dan lainnya.

Nah saat aku dan Nadya (salah satu temanku di sana) sedang mengerjakan soal yang diberikan, guru yang mengajar menjelaskan sedikit pada kami berdua dan kemudian meminta kami untuk mencari tahu informasi-informasi yang sebanyak mungkin tentang suku-suku yang terkait dengan sejarah bilangan, salah satunya Suku Maya yang peradabannya bisa dibilang paling maju.

Kalau kupikir-pikir, mengapa guru yang mengajar Math menyuruh kami mencari tahu tentang sejarahnya, kemungkinan adalah agar kami jadi jauh lebih paham materi dengan memahami pula asal-usulnya. Jadi tidak sekedar menghafalkan bentuk bilangannya begitu saja. Kalau lebih paham, mestinya akan lebih ingat.

Oya, di Cikal meskipun bukan sekolah Islam, tapi tiap pagi murid-murid yang muslim juga dibiasakan untuk mengaji sebelum mulai belajar, dan shalat tepat pada waktunya dengan berjamaah. Sementara murid yang beragama lain diberi kesempatan beribadah sendiri menurut agamanya, meskipun kalau di kelasku tadi kebetulan semuanya muslim.

Teman-teman baru yang ramah, guru dan kegiatan belajar yang asik membuatku senang sekali bisa ikut trial class ini. Selain menambah teman, aku jadi lebih yakin untuk masuk SMP di Sekolah Cikal Surabaya ini. Doakan aku bisa masuk di sana ya teman-teman.. Byee!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s