Menari di Atas Pelangi

Aku tahu kita bisa melakukannya, aku tahu kita bisa keluar dari masalah ini. Cepat atau lambat, kita akan menemukan solusinya.

Hai, aku Nita seorang anak kampung yang berada di pinggiran kota besar. Ayahku adalah kuli bangunan dan ibuku adalah ibu rumah tangga biasa. Buku adalah harta terbaik yang bisa kumiliki. Hal tersebut otomatis membuat perpustakaanlah tempat favoritku.

Namun beberapa hari ini, ada masalah yang menimpaku dan teman-temanku sesama pecinta buku. Semua ini dimulai pada hari Sabtu minggu lalu. Kami menuju perpustakaan seperti biasa. Perpustakaan Pelangi, yang diberi nama demikian agar bisa memberi banyak warna pengetahuan dengan buku-buku yang ada di dalamnya. Teriknya matahari tidak kami hiraukan selama perjalanan sejauh 1 kilometer itu.

Continue reading

(Cerpen) Aku dan Tarian Jawa

Lagi-lagi aku termenung di tengah bisingnya kantin sekolah siang hari itu. Tergiang-ngiang di kepalaku kata-kata eyang putri belum lama ini. “Nia, eyang harap kamu dapat meneruskan karier eyang sebagai penari Jawa jika eyang sudah tidak ada nanti.”

Entah kenapa, ucapan tersebut seolah menjadi pertanda meninggalnya eyang putri kemarin karena serangan jantung. Aku tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat. Hari dimana aku merasa bimbang untuk memilih, apakah harus meninggalkan kegemaranku menari modern, lalu beralih menekuni tarian Jawa seperti eyang. Aku benar-benar galau.

“Hei, Nia! Melamun saja!” seru Aliyah, sahabatku. “Eh, i-iya..”, ucapku. “Kamu terlihat kurang bahagia hari ini. Ada apa?” Tanya Aliyah masih penasaran. “Eyang putriku meninggal kemarin dan menginginkanku meneruskan karirnya sebagai penari Jawa” jelasku. “Hmm… kamu harus mencoba mulai mempelajari tari tradisional berarti, agar bisa menjadi penari Jawa yang hebat seperti eyangmu”.

Continue reading