(Cerpen) Aku dan Tarian Jawa

Lagi-lagi aku termenung di tengah bisingnya kantin sekolah siang hari itu. Tergiang-ngiang di kepalaku kata-kata eyang putri belum lama ini. “Nia, eyang harap kamu dapat meneruskan karier eyang sebagai penari Jawa jika eyang sudah tidak ada nanti.”

Entah kenapa, ucapan tersebut seolah menjadi pertanda meninggalnya eyang putri kemarin karena serangan jantung. Aku tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat. Hari dimana aku merasa bimbang untuk memilih, apakah harus meninggalkan kegemaranku menari modern, lalu beralih menekuni tarian Jawa seperti eyang. Aku benar-benar galau.

“Hei, Nia! Melamun saja!” seru Aliyah, sahabatku. “Eh, i-iya..”, ucapku. “Kamu terlihat kurang bahagia hari ini. Ada apa?” Tanya Aliyah masih penasaran. “Eyang putriku meninggal kemarin dan menginginkanku meneruskan karirnya sebagai penari Jawa” jelasku. “Hmm… kamu harus mencoba mulai mempelajari tari tradisional berarti, agar bisa menjadi penari Jawa yang hebat seperti eyangmu”.

Baca lebih lanjut

Cerewetnya Dahlia

‘Hoaaeemm… Eh, tumben banget Dahlia masih tidur. Kalau gitu, aku tidur lagi aja, ah..’

‘Teeeett, teett, teeett..!!!’ Terdengar alarm di ponselku berbunyi nyaring. “Hei! Bangun pemalas!! Lihat dong jam-nya. Sudah jam setengah tujuh tau!!” Belum selesai alarm berbunyi, sudah terdengar sahutan saudara kembarku yang paling menjengkelkan. Ya, dia adalah Dahlia. Orang paling cerewet nomor 1 di rumahku ini.

“Iya, iya!! Ini aku sudah bangun!” Seruku. “Makanya dong, kalau bangun jangan kelamaan. Nih, aku aja udah bangun dari tadi. Udah ah, sana kamu mandi dulu. Habis mandi, langsung ke ruang makan. Jangan tidur lagi! Ngerti?” . “Iya, kakakku yang baik hati..!” Jawabku dengan nada mengejek.

Aku segera mandi dan ganti baju dengan cepat agar tidak kena omelan dari Dahlia. ‘Huuuh! Udah tau aku lagi enak-enak tidur malah dibangunin. Dia kelihatannya emang gak bisa deh, lihat orang lagi senang.’ Gumamku dalam hati saat mandi.

“Hai Bun! Hai Yah!” Kataku saat lari ke ruang makan. “Hai juga Dila..” Jawab orangtuaku. “Tumben bangunnya agak siang, Dil”. “Hehehe.. Iya Bun.. Kan hari Minggu.” Ujarku yang tidak menghiraukan Dahlia yang terlihat sedang menggelengkan kepalanya saat melihatku. “Tadi hampir aja kami tinggal, lho, Dil.” Kata Ayah. “Makanya, kan udah aku bilang berkali-kali, kalau bangun itu jangan kelamaan.” Ujar Dahlia yang mulai cerewet lagi. Ayah dan Bundaku langsung tertawa saat melihat wajah cemberutku. “Huuh… Nggak lucu tauu!” Seruku. “Sudah, ah, sarapan dulu.” Kata Dahlia sambil menyodorkan mangkok berisi sereal. “Terimakasih, Lia.” Kami semua segera makan dengan lahap.

“Bun, Yah, aku ke kamar dulu ya..” Ujarku sesaat setelah selesai makan. “Mau tidur lagi itu pasti..” Sayup-sayup terdengar suara Dahlia yang tidak kuhiraukan.

“Huh, kapan sih Dahlia bisa berubah agar nggak mencerewetiku terus? Andai aja ada sesuatu yang bisa merubah Dahlia..” Omelku di kamar. “Aku bisa membantumu gadis kecil…” Terdengar suara yang sangat mengerikan di area kamarku. “S-siapa kamu?!” . “Ah, aku tak akan memberi tahumu sampai kau menjawab pertanyaanku.. Apakah kau mau dibantu olehku?” . “Eh, hmm.. B-baiklah..” Jawabku dengan ragu-ragu. ‘Aku benar-benar takut mendengar suara itu. Jangan-jangan, dia adalah.. Ah, sudahlah, mungkin ini tak seburuk itu.’ . “Plop!!” . “Aah!!” Terdengar bunyi gelembung pecah yang diikuti dengan teriakanku. “Hah! Siapa kamu?!” Tanyaku kaget saat melihat seorang perempuan yang memakai gaun biru. “Jangan takut, gadis kecil..” Kata wanita itu sambil tersenyum sangat manis.

Aku sempat berfikir kalau ia adalah pemilik suara yang tadi. Namun, suara perempuan ini jauuh lebih bersahabat dan menyenangkan dari suara tadi yang sangat menyeramkan. “Oke, oke, namun siapa kamu?” . “Aku adalah ibu perimu, nak. Kau bisa memanggilku Miss Angel.” Aku sangat kaget dengan jawaban perempuan itu, atau tepatnya Miss Angel. “Apa! Ibu peri?! Tidak mungkin ada ibu peri di dunia ini?!” . “Karena kau belum tahu semua rahasia dunia ini..”

“Um, jadi…?” . “Jadi, aku akan membantumu untuk menghilangkan kecerewetan saudaramu..!” Katanya dengan nada ceria. “Oke, itu terdengar seperti rencana yang bagus.” Kataku kemudian “Bagaimana kau akan melakukannya?”

“Lihat ini.” Sesaat setelah ia mengucapkan itu, muncul semacam portal tepat di antaraku dan Miss Angel. Aku berseru kaget. “Wow!!” . “Nah, yang sekarang harus kau lakukan adalah masuk dalam portal tersebut.” Jelasnya. “Apa kau yakin, Miss?” Aku sangatlah takut untuk masuk ke portal itu. Bagaimana kalau aku tak bisa kembali? Atau bagaimana jika ada monster di sana? Itu bisa menjadi sangat mengerikan.

“Oh, ayolah, kau tak perlu khawatir. Aku bisa menolongmu jika terjadi sesuatu.” . “Oke, bye Miss Angel..!” Teriakku sambil masuk ke dalam portal. “Bye, Dila…!” Sayup-sayup terdengar seruan dari Miss Angel dari luar portal.

“Huwaaa…!” Kepalaku terantuk lantai. Aku segera melihat sekitar. ‘Eh, inikan kamarku. Hmm.. Pasti ada kesalahan. Ah, sudahlah, setidaknya aku tidak terdampar di tempat lain.’ Gumamku.

“Dila.. Ada apa..?” . “Eh.. Hehe, aku tidak apa-apa kok, Lia.” Jawabku. “Oh, ya sudah.” Dahlia pun sager berjalan melaluiku. ‘Aneh, kalau ada kejadian seperti ini pasti dia sudah mencerewetiku. Tapi, nggak apa-apa deh daripada dia cerewet terus.’

Hari terus berlalu, tiap hari Dahlia tidak mencerewetiku. Entah kenapa, aku makin tidak nyaman dengan keadaan ini. Padahal biasanya, aku paling benci saat Dahlia mencerewetiku. Sekarang, justru kebalikannya.

Berkali-kali aku mencoba untuk memanggil Miss Angel. Tapi itu tidak berguna. Miss Angel tidak muncul juga. Walaupun aku tahu kemungkinan Miss Angel tidak muncul, aku tetap mencobanya malam ini.

“Miss Angel! Tolong munculah!” Seruku. ‘Plop!” Ada suara gelembung pecah seperti saat Miss Angel muncul di kamarku beberapa hari yang lalu. “Miss Angel!” Teriakku begitu muncul perempuan bergaun biru yang kukenal. “Ada apa, Dila?” . “Miss, tolonglah.. Aku tak ingin berada di sini. Aku tidak suka dengan Dahlia yang tidak cerewet..!” Ujarku sambil menangis. “Baiklah, nak..”

Seperti beberapa hari yang lalu, Miss Angel membuat portal lagi. Tanpa aba-aba, aku langsung masuk ke dalam portal itu.

“Dahliaa…!!!” Seruku saat aku kembali di kamarku. Dahlia yang melintas di luar kamarku segera masuk dan dilanjutkan oleh pelukanku. “Eehh..! Kenapa sih, Dil?! Mimpi buruk ya waktu tidur barusan? Makanya, kalau mau tidur itu, doa dulu dong..!” Kata Dahlia. “Eh, tidur? Aku tadikan nggak tidur Lia..” Jawabku bingung. “Jelas-jelas aja kamu tidur tadi. Udah, ah, sana shalat Dhuhur!” Ujar Dahlia. “Huh, dasar sleepyhead..” Omelnya sebelum keluar dari kamarku.

Meninggalkanku yang bengong sendiri..

Dimanakah Orangtuaku?

Suatu hari, di balik lalung-lalang kendaraan bermotor, ada kecelakaan fatal yang terjadi di sana. Seorang anak kecil berumur 2 tahun dilarikan ke rumah sakit, sementara orangtuanya entah ada dimana. Sejak kecelakaan fatal, anak kecil yang ternyata bernama Silvia Maharani itu dirawat oleh tantenya. Namun, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tentenya menitipkan Silvia ke panti asuhan.

Silvia hidup dan diperlakukan sama dengan semua anak yang berada di panti asuhan itu. Di panti asuhan, ada 2 pengurus, yang pertama bernama Bu Livi dan yang kedua adalah pengurus baru bernama Bu Silvi. Mereka berdua sangat sayang kepada anak-anak di panti asuhan itu. Namun anehnya, kasih sayang dari Bu Silvi kepada Silvia melebihi anak-anak yang lain. Lama kelamaan rasa kasih sayang yang lebih itu membuat anak-anak yang lainnya menjadi iri, kecuali satu anak yang merupakan sahabatnya, ia bernama Kirana. Baca lebih lanjut

Aku dan Buku Oliver Twist

Kemarin aku membaca buku Oliver Twist. Oliver twist adalah karya milik Charles Dickens.  Oliver Twist itu seorang anak yang ibunya meninggal saat Oliver lahir. Setelah ditinggal oleh ibunya dia dirawat di rumah penampungan. Karena Oliver selalu disiksa dia melarikan diri ke london. Tapi ternyata saat di London Oliver malah bertemu penjahat. Oliver disuruh mencuri sama penjahatnya. Aku ngeri pada saat Oliver di tembak oleh penjahatnya, tapi untungnya si Oliver selamat, tidak meninggal. Setelah Oliver ditembak ia bangun dari pingsannya dan minta bantuan. Baca lebih lanjut

Pahlawan Peri

Suatu hari ada ancaman di dunia peri. Mira sang pengendali air langsung mengeluarkan bola-bola air dari tangannya untuk menyerang peri-peri jahat. Temannya Mira yang bernama Michel sedang mengendalikan pasir-pasir yang ada di sekitarnya. Pertempuran berlangsung seru. Tiba-tiba, Bruk! Peri-peri jahat terjatuh secara tiba-tiba. Ternyata yang membuat peri-peri jahat jatuh adalah para ibu peri. Sekarang Mira baru ingat kalau hari ini adalah hari ibu, mira lalu bilang ke ibunya, “I LOVE YOU MOM!.” Akhirnya karena ibunya mira berhasil melawan peri-peri jahat seluruh kota peri membuat piagam untuk ibunya mira yang ada tulisannya : IBU TERHEBAT SEPANJANG MASA