(Cerpen) Aku dan Tarian Jawa

Lagi-lagi aku termenung di tengah bisingnya kantin sekolah siang hari itu. Tergiang-ngiang di kepalaku kata-kata eyang putri belum lama ini. “Nia, eyang harap kamu dapat meneruskan karier eyang sebagai penari Jawa jika eyang sudah tidak ada nanti.”

Entah kenapa, ucapan tersebut seolah menjadi pertanda meninggalnya eyang putri kemarin karena serangan jantung. Aku tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat. Hari dimana aku merasa bimbang untuk memilih, apakah harus meninggalkan kegemaranku menari modern, lalu beralih menekuni tarian Jawa seperti eyang. Aku benar-benar galau.

“Hei, Nia! Melamun saja!” seru Aliyah, sahabatku. “Eh, i-iya..”, ucapku. “Kamu terlihat kurang bahagia hari ini. Ada apa?” Tanya Aliyah masih penasaran. “Eyang putriku meninggal kemarin dan menginginkanku meneruskan karirnya sebagai penari Jawa” jelasku. “Hmm… kamu harus mencoba mulai mempelajari tari tradisional berarti, agar bisa menjadi penari Jawa yang hebat seperti eyangmu”.

“Justru itu masalahnya, Liyah! Aku tidak ingin meninggalkan kesukaanku menari modern”. Kusambung kalimat itu dengan beberapa keluhan yang seakan tak ada hentinya. “Yah, semua ini keputusanmu Nia. Jadi pikirkanlah baik-baik. Ingat sajalah, semua pilihan yang kau pilih pasti ada konsekuensinya masing-masing”, Aliyah dengan sabar mejawab keluhanku.

“Kriiinnggg, kriiiinnngggg…!”, suara bel sekolah. “Ayo Liyah, kita ke kelas”, ajakku sambil terus berpikir. Saatnya pelajaran pak Gilang dengan mata pelajaran sejarah. Salah satu mata pelajaran yang harus kubilang sangat membosankan. Apalagi dengan materi kali ini yang membahas kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu.

“Jangan lupa ya anak-anak, tugas projek kita. Terakhir pengumpulan adalah minggu depan. Bapak harap kalian bisa mengerjakannya semaksimal mungkin”, pak Gilang berkata pada kami. Walaupun sebenarnya ada kemungkinan besar bahwa anak-anak tidak mendengarkan satupun yang dibicarakan baru saja oleh pak Gilang.

Sore saat di rumah.. “Tok, tok, tok…”, suara pintu kamar diketuk.

“Nia, mama mau bicara sama kamu.” Mama tiba-tiba datang. “Ma, aku belum mau memikirkan perkataan almarhum Eyang Putri…”, spontan aku berkata seperti itu. “Maaf, nak. Bukannya mama ingin membebani pikiranmu, namun mama benar-benar ingin kamu mengikuti saran almarhum eyang. Itu pesan wasiat yang sebaiknya dilakukan”, kata mama dengan wajah penuh harapan kepadaku.

“Baiklah ma, akan kupikirkan baik-baik… Tapi aku minta maaf, mungkin aku perlu waktu yang agak lama untuk berpikir”, jawabku.

Mama hanya tersenyum dan keluar perlahan dari kamarku. Di tengah sunyinya ruangan ini hatiku makin gundah. Seakan tak ada yang mengerti perasaanku kali ini. Walaupun sebenarnya aku tahu keluargaku dan Aliyah akan selalu mendukung apapun yang aku lakukan.

Aku mungkin sudah terlalu cinta dengan tarian modern. Ucapan almarhum eyang putri membuat pikiranku semakin tak karuan. Kenapa eyang putri harus berpesan seperti itu? Andai saja beliau masih ada, aku akan lebih mudah menyampaikan isi pikiranku. Aku sangat sayang pada eyang putri. Aku tidak ingin mengecewakan beliau. Tapi masalahnya, aku memiliki keinginan yang lain.

Seminggu kemudian…

“Anak-anak, sekarang kumpulkan projek Kerajaan Jawa kalian! Bapak ingin lihat bagaimana kreasi kalian”, pak Gilang berkata dari depan kelas.

Duduk diam dan tertunduk lesu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Pak Gilang menatapku. “Nia, ayo kumpulkan hasil projekmu.” Perlahan aku menggelengkan kepala. “Maaf, Pak. Tugas saya belum selesai.”

“Bagaimana kamu ini, Nia? Bapak sudah sediakan waktu yang cukup sejak jauh-jauh hari. Tapi kamu tidak mengerjakannya!” kata Pak Gilang. Setelah itu sampai pelajaran selesai Pak Gilang tidak mengatakan apapun lagi.

Saat kukira hukuman tidak akan dijatuhkan padaku, tiba-tiba…

“Nia! Kamu dicari Pak Gilang di ruang guru!” ucap seorang temanku saat istirahat berlangsung. “Ah! Waduh, ada apa?” Tanyaku. “Entahlah, yang jelas Pak Gilang ingin kamu menghadap beliau sekarang juga.”

“Permisi, Pak.” Perlahan aku membuka pintu ruang guru. “Duduklah di sini, Nia.” Pak Gilang berkata padaku sambil menunjuk kursi yang berada di depan mejanya. 

“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu, Nia? Tidak biasanya kamu begini”, kata Pak Gilang membuatku merasa bersalah. Aku hanya diam menunduk. “Baiklah, terpaksa bapak akan beri kamu sebuah hukuman.” Kata-kata Pak Gilang membuatku tegang. “Hukumannya tidak berat. Hanya kamu harus belajar menarikan salah satu tarian Jawa, dan kamu harus menampilkannya di acara pentas seni antar kelas 2 minggu lagi. Bagaimana?”

“Wah, itu susah sekali Pak. Saya belum pernah melakukannya. Saya sudah terbiasa menari modern, tapi bukan tarian Jawa”. Tak sabar aku ingin kembali ke rumah dan membayangkan semua ini tidak terjadi. 

“Nah, justru inilah kesempatanmu untuk mencobanya! Anggap saja ini akan menjadi tantangan yang baru. Apalagi dengar-dengar, almarhum Eyang Putrimu juga menginginkan setidaknya kamu belajar menarikan tari tradisional bukan? Bapak merasa pesan beliau sangat baik. Kalau semua anak lebih suka menari modern, siapa yang akan peduli dan melertarikan budaya kita sendiri?” tanya Pak Gilang.

Kupikir-pikir, kata-kata Pak Gilang tidak salah. “Baiklah Pak.. Saya akan berusaha mencobanya.” Tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Dengan masih agak terpaksa, aku akan mengikuti apa kata Pak Gilang. Semoga saja Pak Gilang benar, mungkin ini memang awalku untuk melakukan hal baru, dan seperti kata Pak Gilang, untuk lebih peduli dengan budaya sendiri.

Siang hari sesampai di rumah…

“Ma, aku pulang!” suaraku terasa memenuhi langit-langit ruangan begitu aku berteriak. “Nia! Mama punya kabar baik untukmu!” Mama ikut berseru begitu aku masuk rumah. “Ada apa Ma?” Aku keheranan melihat mama bersemangat seperti itu.

“Mama telah mendaftarkanmu mengikuti Sanggar Tari di pendopo kabupaten! Kamu akan mulai mengikuti kegiatan di sana Hari Sabtu besuk. Segala perlengkapannya sudah mama siapkan. Jadwal latihanmu di sana sudah mama taruh di meja belajarmu. Ah, mama tak sabar melihatmu mengikutinya!” Mama menjelaskan panjang lebar kepadaku.

Tunggu, Mama telah mendaftarkanku di Sanggar Tari Tradisional?! Aku bahkan belum tahu sanggarnya akan seperti apa! Hmmm, baiklah, sudah didaftarkan jadi aku tak bisa menolaknya. Lagipula aku juga harus melakukan hukuman dari Pak Gilang, dan juga aku lama-lama tidak enak melihat mama selalu murung dan sedih setiap saat memikirkan pesan almarhumah Eyang. Maka dari itu aku hanya mengangguk, lalu pergi ke kamarku dan melihat jadwalnya.

Hari Sabtu, aku benar-benar berangkat ke sanggar itu. Aku dan mama langsung disambut oleh pemilik sanggar yang tak lain adalah… Pak Gilang!

Aku yang melihatnya langsung terbengong, tidak kusangka ternyata Pak Gilang mempunyai sanggar tari tradisional. Secara bergantian kulihat mama dan Pak Gilang. Aku yakin mereka berdua sudah bersekongkol untuk membuatku mau belajar Tari Jawa. Mama hanya menyeringai sambil menatapku.

“Hahaha…, sudahlah. Mari bapak antar ke kelas tarimu”, kata Pak Gilang memecahkan susasana. Aku mengikutinya saja sambil melambaikan tangan ke mama yang segera meninggalkanku.

Kekagetanku bertambah ketika mengetahui bahwa, Aliyah juga mengikuti sanggar tari ini! “Hai Nia! Akhirnya kamu ikut sanggar ini juga.” Ia melunjak kesenangan. “Wah, tidak aku sangka kamu ikut sanggar ini, Al! Kenapa kamu tidak pernah bercerita selama ini?” tanyaku penasaran. Aliyah hanya tertawa.

“Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan seorang teman baru. Namanya Nia. Untuk Nia, perkenalkan nama ibu Bu Elis. Nah, untuk menyambut Nia, ibu ingin murid-murid lama di sini menarikan Tari Bondan yang baru saja selesai kita pelajari”, kata Bu Elis, wanita paruh baya yang melatih tari di kelasku. Tak lama ia mengidupkan musik pengiring Tari Bondan, dan diikuti oleh gerakan tari anak-anak di sini.

Aku pun mencermati dan mulai mengenal lebih jauh tari tradisional dari saat itu. Semua hal dari tarian ini membuatku terpukau. Mulai dari kerumitan tariannya sampai keanggunan gerakan para pemainnya. Entah kenapa jadi tidak sabar sekali untuk ikut mencoba menarikannya!

Tepuk tangan keras dariku dan bu Elis langsung menyambut teman-teman yang baru saja membawakan Tari Bondan bersama-sama. 

“Nia, Bu Elis harap, pelan-pelan kamu bisa mengikuti teman-temanmu di sini. Apalagi melihat kamu telah memiliki dasar sebagai seorang seorang penari yang baik, meskipun sebelumnya lebih banyak berlatih tari modern.” Bu Elis berkata dengan sungguh-sungguh kepadaku.

“Semuanya, kalian telah menari Bondan dengan cukup baik. Terus dilatih lagi ya. Sekarang mari kita pelajari bersama Tari Gambyong, masih dari Jawa Tengah”, lanjut bu Elis. Anak-anak menyambut antusias. Kelihatannya mereka sudah menunggu-nunggu untuk mempelajari tarian ini.

Di awal-awal belajar, rasanya memang cukup berbeda dengan selama ini aku menggeluti tari modern. Sebab Tari Jawa gerakannya jauh lebih lembut dan gemulai. Namun itu semua tak menghalangiku untuk terus belajar. Aku berpikir bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan belajar ini selagi aku mulai tertarik begini. Teringat kata-kata pak Gilang, aku membayangkan ini tantangan baru buatku.

Aku bersyukur, tidak seperti yang kusangka sebelumnya, ternyata aku bisa mengimbangi kemampuan teman-temanku dengan cukup cepat. Sampai tak terasa, 2 minggu kemudian aku sudah bisa dengan lancar menarikan Tari Gambyong tersebut tepat di hari dimana aku harus menepati janjiku kepada pak Gilang untuk menarikannya di pentas seni antar kelas.

Pentas seni dilakukan di aula sekolah. Pentas kali ini khusus untuk murid kelas 5 dan 6. Tiap kelas menampilkan bermacam atraksi seni secara bergantian. Tidak lama setelah beberapa penampil, pak Gilang pun maju menuju mikrofon. “Anak-anak, selanjutnya akan tampil seorang murid yang sebelumnya gemar sekali menari modern, lalu dalam 2 minggu ini berusaha keras untuk bisa menari Jawa dengan baik”, Pak Gilang berkata sambil tersenyum menatapku. 

Aku menarik napas panjang sebelum maju ke depan dan menarikan Tari Gambyong sendiri. 

Perlahan namun pasti, aku mulai bergerak sesuai irama lagu yang diputarkan oleh operator. Seruan tepuk tangan dari anak-anak di aula terdengar begitu aku selesai menari. Aliyah menatapku penuh semangat. Melihat semuanya, entah kenapa aku merasa senang sekali dan begitu lega.

Di akhir acara pentas, Pak Gilang mendatangiku dan memberiku satu selebaran yang bertuliskan, ‘Lomba Menari Jawa untuk Siswa SD-SMP-SMA Tingkat Provinsi’. “Bapak kira kamu sudah siap untuk mulai berlatih mengikuti ini, bersama beberapa temanmu yang lain.” Kata-kata tersebut diucapkan Pak Gilang begitu aku membacanya.

Spontan, aku langsung mengangguk kegirangan. Rasanya seperti lupa bahwa tiga minggu sebelumnya aku masih sibuk mengeluh saat harus meninggalkan tari modern dan beralih mempelajari tari tradisional. “Sekolah akan mengikutkan kamu dan beberapa siswa mengikuti perlombaan ini bukan untuk berambisi mendapatkan kemenangan. Tapi untuk melatih murid-murid untuk percaya diri menampilkan kemampuan di muka umum.” Pak Gilang seperti bisa membaca pikiranku yang sempat tidak yakin.

Aliyah yang datang mendekat pun berkata “Tenang saja, kita akan melakukannya dengan baik.”

Di pertemuan-pertemuan sanggar berikutnya, aku diajar khusus oleh pak Gilang dan bu Elis untuk mengejar teman-temanku yang sudah lebih dulu mahir menari Bondan. Sebuah tarian klasik, juga dari Jawa Tengah. Sampai pada bagian di tengah tarian saat aku harus menari di atas kendi yang tidak boleh pecah, aku khawatir sekali.

Satu-dua kali aku mencoba gerakan di atas kendi, berulang aku terjatuh. Bahkan sempat kendi yang aku naiki ikut pecah. “Tidak perlu gugup, Nia. Rasakan keseimbangan tubuhmu begitu kau berada di atas kendi. Bayangkan kau menjadi pemeran utama yang menampilkan tarian ini di hadapan banyak orang lainnya”, ucap bu Elis dengan lembut sambil memegangi tanganku selagi aku mencoba kembali menaiki kendi.

Sesuai petunjuk bu Elis, aku menghirup napas panjang-panjang dan memulai lagi menari di atas kendi tersebut. Hei! Lama-lama aku bisa melakukannya. Tak terasa, setelah beberapa kali mencoba, aku sudah cukup mahir naik-turun dan menari di atas kendi dengan lancar. “Wah, Nia! Kamu sudah bisa menarikan gerakan-gerakan sulitnya dengan cukup baik. Sekarang ibu sudah tak khawatir mengikutkanmu dalam perlombaan tersebut!” Bu Elis tampak senang sekali.

Dan akhirnya hari lomba tari pun tiba. Mama berkali-kali memastikan bahwa semua perlengkapanku telah siap. Mama sendiri yang mengantarku menuju lokasi perlombaan diadakan. Begitu kami sampai, gedung perlombaan itu sudah penuh oleh peserta-peserta lainnya yang banyak sekali! Kegugupanku mulai muncul melihatnya. Namun untung saja mama selalu menenangkanku.

Satu-persatu peserta lomba dipanggil naik ke panggung untuk menunjukkan bakat mereka. Hingga kemudian sampai pada nomor 20, yang tak lain adalah nomor urutku. Dengan gugup, aku naik ke atas panggung dan menarikan tari Bondan yang sudah aku pelajari selama beberapa minggu terakhir. Satu-dua kesalahan tak sengaja kulakukan menjelang akhir tarian. Entahlah, mungkin karena aku mulai terburu-buru ingin selesai tampil. Dan kesalahan-kesalahan itu membuatku khawatir aku tidak akan menang. Tapi begitu aku turun panggung, mama berkata, “Kamu sudah berusaha dengan baik. Kesalahan kecil tidak masalah, apalagi ikut perlombaan ini tujuannya bukan untuk berburu juara. Melainkan agar kamu terlatih untuk percaya diri tampil di muka umum.”

Setelah agak lama kami menunggu pengumuman hasil…

“Baiklah hadirin sekalian, sekarang kita lihat bersama siapa yang akan menjadi juaranya!” Pembawa acara lomba muncul dan bersiap mengumumkan juara lomba Tari Tradisional untuk SD sampai SMA itu.

“Kita mulai, dari juara 3 kategori SD, diraih oleh Adinda Zulaiha!” Penonton bertepuk tangan dengan riuh. “Pemenang dipersilakan untuk maju ke depan. Kemudian dilanjutkan dengan juara 2, adalah peserta dengan nama Emilia Setia Putri!” Tepukan penonton pun semakin bergemuruh. Pembawa acara melanjutkan lagi pengumumannya, “Dan sekarang yang kita tunggu-tunggu bersama, juara pertama lomba ‘Tari Traditional kategori SD adalah Laila Elmira Zahra! Selamat untuk para pemenang lomba..”.

Saat itu aku menyadari bahwa namaku tidak tersebutkan. Meski tahu ini hanya untuk mencari pengalaman dan berlatih tampil, tetap saja aku merasa sangat kecewa. Aku merasa tidak maksimal berusaha dan mengecewakan harapan almarhumah eyang putri. Mama yang seolah memahami perasaanku mendekat dan mengelus pundakku.

“Permisi, adik yang bernama Fatania Rizqi Muliana?” terdengar suara seseorang. Sontak aku langsung menoleh ke belakang. “Perkenalkan saya Putra dari Institut Seni Indonesia. Tujuan saya menemui adik dan ibu adalah karena adik Fatania terpilih untuk mendapatkan beasiswa belajar khusus tari tradisional di Institut Seni Indonesia selama beberapa bulan. Apabila adik mampu mengikuti proses belajarnya dengan baik, kelak ia akan dapat masuk melanjutkan pendidikannya juga sebagai mahasiswa ISI”, jelas pria yang tiba-tiba memanggilku tadi. 

Kata-kata beasiswa itu membuatku kaget. Bukankah masih banyak anak di luar sana yang jauh lebih berbakat menari daripada aku? Atau paling tidak, mengapa mereka tidak lebih memilih yang juara saja?

“Sebentar, perkenalkan saya Rahma, ibu dari Fatania. Kalau boleh tahu apakah ada penjelasan lebih rinci mengapa anak saya ini bisa mendapatkan beasiswa? Dan juga apakah benar anda dari Institut Seni Indonesia?” Mama bertanya panjang lebar untuk memastikan.

Pria yang bernama Putra itu langsung menunjukkan kartu namanya yang menggantung di lehernya, dan menjawab. “Kami memilih Fatania daripada yang lain karena walaupun ada beberapa gerakan yang ia lupa, tapi Fatania dapat menghayati dan menunjukkan emosi tarian yang dibawakannya dengan sangat sempurna. Jika ibu berkenan, ibu dapat datang ke ISI bersama adik Fatania, untuk kami jelaskan lebih lanjut tentang program beasiswa yang akan kami berikan.”

Mataku langsung berbinar-binar mendengar semua itu. Terlihat mata mama juga sepertiku. Aku tahu, ini adalah kesempatan untuk membuka peluangku menjadi apa yang diharapkan almarhum eyang putri.

Dan setelah beberapa tahun berlalu…

Aku benar-benar berhasil memenuhi harapan eyang putrid. Aku sukses menampilkan sekaligus memperkenalkan tari-tarian jawa ke mata dunia. Beberapa kali aku mengikuti misi kebudayaan ke sejumlah Negara. 

Terimakasih eyang.. Kalau bukan karena beliau, aku takkan bisa sesukses ini. Aku yakin almarhum eyang putri sedang menangis terharu melihatku, dari surga-Nya. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s