Lebaran 2017! (4): Yaaaayyy… Gunung Bromo!!

Hai semuaa!!! Aku melanjutkan cerita ragkaian libur lebaran lagi ya.. Di salah satu tulisan sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa lebaran kali ini, ada sesuatu yang beda dari yang kemarin-kemarin. Lebaran kali ini aku akan pergi ke gunung Bromo! Yeaayyy!

Aku pergi ke sana berlima dengan mamski, papski, mbak Irma, dan mas Dimas. Sebenarnya sebelum kami berangkat, kakung sepertinya ingin ikut. Tapi tidak bisa karena kalau tidak salah harus mengisi khutbah saat shalat Jumat di masjid Al-Fath.

Rencana kami ke bromo ini sebenarnya sudah terpikirkan dari sebelum lebaran. Namun saat itu kami belum tahu apakah hal itu benar-benar akan dilakukan. Dan ternyata jadi deh!

Kami berlima berangkat ke sana sekitar jam 6 pagi dari rumah nenek. Di sana kami berencana akan istirahat dulu di salah satu penginapan yang sudah dipesan papski pada malam sebelumnya. Baru besoknya saat dini hari kami naik ke Bromo-nya.

Dari Blitar, jalur yang kami lalui untuk ke Bromo itu lewat Pasuruan. Sebenarnya kata papski ada 3 jalur yang bisa ditempuh untuk ke bromo. Yaitu jalur Pasuruan, jalur Probolinggo, dan jalur Malang. Untuk yang lewat Malang entah kenapa memang tidak direkomendasikan sama orang-orang. Sementara untuk jalur Probolinggo kami tebak akan ramai di situ karena memang jalur itu katanya adalah jalur utama yang biasa dilalui oleh wisatawan yang akan ke Bromo. Sebab itulah kami lewat jalur Pasuruan.

Selama di perjalanan, kami sempatkan untuk mampir-mampir. Seperti saat makan siang dan untuk belanja sedikit camilan.

Kami akhirnya sampai di penginapan saat masih agak siang. Begitu sampai dan dapat kunci kamarnya, kami ke kamar masing-masing. Papski memesankan 2 kamar. Satu untuk aku, mamski, papski, sementara satunya untuk mbak Irma dan mas Dimas.

Di kamar kami istirahat-istirahat dulu sampai capeknya hilang baru berjalan-jalan menuju ke pasar Tosari yang berada di dekat penginapan.

Waktu di Pasar Tosari, kami makan bakso yang rasanya menurutku enaak banget. Mungkin karena lapar. Ditambah lagi makannya itu di tempat yang hawanya itu sejuk. Tambah yummy deh!

Selesai makan bakso, kami jalan-jalan di sekitar pasar Tosari sebab pemandangannya itu baguuusss bangeett. Kalau difoto jadi kayak ada efek berkabutnya gitu. Ya karena memang sedang turun kabut sih, hihihi…

Saat sudah semakin sore, kami kembali ke penginapan untuk istirahat, sebab sekitar jam 1 atau 2 dini hari besoknya kami harus bersiap-siap untuk ke bromo. Tapi sebelum istirahat dan tidur atas usul mamski, aku, mbak Irma, dan mas Dimas janjian untuk makan di bawah. Oya, aku belum cerita bahwa di penginapan itu kamar kami terletak di lantai 3 sementara ruang makan sekaligus kantin terletak di lantai 1.

Kami bertiga hanya makan mi instan saat itu karena memang itulah satu-satunya makanan yang ada di sana. Dan di sana, aku agak merasa kesal karena akses WiFi-nya lemot (hehe..). Tapi ya tidak apa-apalah. Namanya juga kan penginapan kecil. Jadi ya tidak mungkinlah aku mau bandingkan dengan hotel biasanya.

Kalau tidak salah kami bertiga makan malam sampai sekitar jam 8, dari saat turun dari kamar jam 6.30-an. Lumayan lama juga, lalu kembali ke kamarnya setelah puas internetan.

Sesampai di kamar, entah kenapa aku rasanya tidak bisa tidur. Walaupun akhirnya sudah sempat tertidur, saat bangun jam 1 itu rasanya kurang puas tidurnya. Semacam tidak tidur. Terasa aneh pokoknya.

Dini hari itu, aku pun bersiap-siap untuk naik melihat matahari terbit. Aku mengenakan jaket tebal yang aslinya punya mamski, lalu kuambil alih, hihihihi.. Semua orang bersiap. Begitu selesai, kami turun menunggu jeep yang sudah dipesan papski di bawah.

Datangnya jeep menurutku agak lama. Di hari sebelumnya, papski sudah memesan jeep lewat penginapan dan bilang kalau pesan jeepnya itu untuk berangkat jam 2. Namun di dini hari itu, jeep baru datang kalau tidak salah sekitar jam setengah tiga.

Dengan bersemangat kami segera naik. Tujuan pertama kami adalah titik penanjakan untuk melihat sunrise itu. Di dalam jeep, awalnya masih belum terasa dingin banget. Jadi saat itu aku masih belum tahu di luar sedingin apa.

Saat titik penanjakan makin dekat, kami diturunkan di tempat parkir khusus jeep. Nah dari situ kami harus jalan kaki ke atas. Dan dari situlah mulai terasa dingin. Namun di area itu aku masih agak tahan.

Begitu sampai di atas, brr… Dingin banget sampai terasa ke tulang! Apalagi ketika sesekali ada angin yang berhembus. Waktu aku lihat di hp papski, suhunya mencapai 10 derajat! Wow…pantas aku menggigil. Aku sudah tidak sempat berpikir lagi setelah itu suhunya berubah atau tidak.

Oiya, karena libur lebaran, libur sekolah dan waktunya cuti untuk sebagian orang kantoran, saat itu bisa dibilang keadaannya cukup ramai. Meskipun kata pak supir jeep sudah berkurang ramainya dibanding 2 hari sebelumnya.

IMG_0006.jpg

Kami menunggu sunrise di sana selama hampir 1 jam. Dan waktu sunrise, mataharinya tidak terlihat bundar. Melainkan yang terlihat hanyalah semburat warna oranye dan kuning. Bagus banget! Coba saja mataharinya benar-benar terlihat, pasti bakalan jadi lebih bagus lagi.

IMG_0008.jpg

Beberapa saat kami menikmati pemandangan matahari terbit itu sambil sibuk memotretnya. Setelah kurang lebih 1 jam berlalu di sana, kami segera turun. Aku sudah tidak sabar turun dan masuk jeep saat itu karena aku benar-benar kedinginan. Sampai-sampai saking tidak sabarnya, aku terjatuh saat perjalanan turun itu sampai lututku luka. Walaupun sebenarnya aku awalnya tidak tahu kalau itu luka dan baru tahu saat kembali ke penginapan siang harinya. Sebelum masuk jeep kami sempat membeli jagung bakar sebentar untuk pengganjal perut sambil mengurangi rasa dingin.

Tujuan kami berikutnya adalah menuju ke arah kaki gunung Bromo yaitu padang Savanna. Di sana suhunya mulai naik. Mungkin karena langit juga semakin terang. Memang masih cenderung dingin, tapi dinginnya itu enak. Soalnya seperti ada angin semilir-semilir gitu. Enak pokoknya!

IMG_0003.jpg

Di padang Savanna, pemandangannya gersang. Rumput-rumput di sana terkesan kering. Ya mungkin memang seperti itu suasana di padang gurun ya. Menurut kami padang Savanna ini cocok untuk latar belakang adegan peperangan dalam film-film kolosal.

IMG_0025 (2).jpg

Tapi meski begitu kami tetap berhasil mendapatkan foto yang bagus di sana. Kalian bisa lihat fotonya di atas atau di bawah paragraf ini. Biarpun terasa gersang tapi keren untuk latar berfoto. Seperti sedang di luar negeri.

IMG_0021.jpg

Kami berfoto di padang Savanna cukup lama, dan baru setelah puas kami diantar oleh jeep ke suatu area yang bernama pasir berbisik. Area ini masih di kaki gunung Bromo dan isinya hanya pasir hitam. Namun jangan dibayangkan pasirnya akan seperti pasir pantai biasa. Sebab pasirnya itu adalah jenis pasir yang benar-benar lembut dan tidak bisa menyatu jadi gumpalan padat. Jadi kalau kesana siap-siap saja sepatu kalian terlihat seperti berdebu dan kotor.

IMG_0026.jpg

Area terakhir yang kami kunjungi di kaki gunung Bromo adalah area berkuda. Sebenarnya aku tidak tahu nama area ini apa, tapi kusebut saja area berkuda karena di sini kalian bisa menyewa kuda dan menungganginya. Tapi aku tidak naik karena bayar sewanya mahal.

IMG_0016.jpg

Dari area tersebut juga kalian bisa naik ke kawah bromo melewati 200 anak tangga untuk mencapainya. Namun kami memutuskan tidak ke sana, karena semuanya sudah pada capek. Ditambah suasana yang sangat berdebu saat itu.

IMG_0063.jpg

Sebagai ganti tidak ke kawah, kami meminta supir jeep-nya untuk menurunkan kami sebentar di salah satu tempat dimana kita bisa melihat pemandangan gunung bromo secara keseluruhan. Oiya, tempat ini sebenarnya tidak termasuk dalam paket tour Bromo. Jadi kami benar-benar ke sana karena keinginan kami berlima dan pak supirnya yang baik hati memberhentikan di lokasi memotret yang tepat.

IMG_0008.jpg

Setelah selesai mengambil foto, kami diantar lagi ke penginapan. Di sana, kami langsung beristirahat sebentar melepas penat, dan kemudian bersiap-siap untuk pulang ke rumah.

Dan itulah akhir ceritaku di Bromo sekaligus penutup untuk rangkaian cerita lebaran yang kubuat. Aku senang banget akhirnya bisa ke Bromo setelah sekian lama hanya melihat lewat foto. Perjalanan ini juga benar benar seru terutama karena ini adalah kali pertama aku pergi ke gunung.

Oiya, di bawah ini ada banyak foto-foto yang diambil saat di Bromo. Semoga kalian suka ya.. Bye..

IMG_0079.jpgIMG_0036.jpg

IMG_0075.jpgIMG_0051.jpgIMG_0028.jpg

 

Lebaran 2017! (3): Berlebaran di Trenggalek

Haiii!! Di tulisan ketiga ini aku akan menceritakan lebaran hari ketigaku di Trenggalek. Selamat menikmati..

Setelah malam sebelumnya aku kembali sampai di Wlingi sekitar jam 9 dari Gresik dan Surabaya, esok paginya aku kembali bersiap untuk perjalanan ke Trenggalek karena di sana ada reuni keluarga besar kakung. Kakungku (bapaknya mamski) memang dari Trenggalek dan beberapa anggota keluarganya masih cukup banyak yang tinggal di sana. Meskipun beberapa yang lain sudah menyebar di mana-mana, termasuk kakung yang tinggal di Blitar. Perjalanan Blitar-Trenggalek kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam.

Karena ini reuni keluarga dan pastinya semua orang ikut, kami memakai 3 mobil, yaitu mobil papski, mobil bapak Nunun dan mobil kakung.

Di jalan, begitu masuk wilayah Trenggalek, banyak hiasan janur plastik warna-warni yang dibentuk seperti gapura. Kata mamski, dari dulu sejak mamski kecil memang di sana banyak yang memasang itu ketika lebaran. Jadi mamski sudah familiar dengan kemeriahan lebaran di Trenggalek ini. Tapi yang membuat terkesan adalah ternyata tradisi itu masih ada sampai sekarang, bahkan terasa lebih meriah karena sekarang janur dari bahan plastik ada warna-warni. Dan itu sampai ke pelosok desan dan kampung semua memasangnya. Jadi kalau di sana saat Idul Fitri itu rasanya seru dan meriaah banget! Beda dengan di kota yang saat Idul Fitri penampilannya sama saja seperti hari-hari biasanya.

IMG_0001.jpg Baca lebih lanjut

Lebaran 2017! (2): Kumpul-Kumpul Keluarga!

Selamat Hari Raya Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin ya.. Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya.

1498253033619.jpg

Di pagi hari saat Idul Fitri tiba, aku bangun agak awal. Aku memutuskan untuk duduk-duduk di luar kamar walaupun memang masih terasa sepi. Beberapa menit kemudian mulai ada yang bangun lagi. Di situlah aku baru ketemu mbak Alya dan keluarganya setelah berbulan-bulan tidak ketemu.

Kami mengobrol sambil mengantri untuk mandi. Aku agak lupa apa yang diobrolkan saat itu, pokoknya ada satu titik obrolan yang bikin aku agak bosan. Untung saja saat itu sudah gilirannya aku mandi. Jadi langsung saja aku mandi lalu berganti baju. Bajuku saat itu adalah tunik putih polos dengan bordiran bunga-bunga dengan kerudung putih polos yang matching dan juga celana jeans yang sudah sering aku pakai.

FullSizeRender-1.jpg

Baca lebih lanjut

Lebaran 2017! (1): Hari-Hari Menjelang Lebaran

Haii!! Kalian berlebaran kemana saja tahun ini? Seperti yang kalian tahu, aku ke Blitar dan Gresik seperti biasa. Tapi di lebaran tahun ini ada yang beda lho! Kalau mau tahu, baca sampai selesai ya! Karena aku akan menceritakannya dalam beberapa tulisan yang terpisah.

Sekarang aku akan awali dengan cerita yang pertama.

Aku sudah sampai di Wlingi (kecamatan tempat Nenek dan Kakung tinggal) sekitar 3 hari sebelum lebaran. Hari pertama di sana aku masih bisa mengobrol dan main dengan mbak Risma dan dua adiknya (Ilham dan Sena) sebelum mereka mudik ke Brebes, ke rumah orangtua Budhe Raras, ibunya mbak Risma.

Di hari pertama itu, kami main bareng seperti (berusaha) main kartu UNO dan lain-lain. Oiya, kalimat di atas pakai kata berusaha karena memang saat main kami sering diganggu sama Ilham dan Sena. Aku, mbak Risma, Ilham dan Sena juga menyempatkan wefie bareng beberapa kali. Tapi tidak aku tunjukkan karena aku dan mbak Risma saat itu sedang tidak pakai kerudung, hehe.

Sehabis 1 hari bermain-main bareng, besoknya saat mbak Risma dan 2 adiknya pergi ke Brebes langsung rasanya sepii banget. Walau kadang Ilham dan Sena ulahnya mengesalkan, rasanya aneh menginap di rumah nenek tanpa adanya suara teriakan dan keributan mereka berdua. Dan juga sedih rasanya nggak ada teman ngobrol yang asik seperti mbak Risma.

Nah, di hari kedua di rumah Nenek, daripada aku sedih karena ketiga sepupuku berangkat, aku dan mamski diajak papski pergi ke Blitar kota karena papski perlu mengurus ATM-nya di sana. Karena saat itu sedang ada Mbak Irma dan Mas Dimas yang sedang mampir ke rumah nenek mengambil beras untuk dibagikan ke beberapa tetangga mereka yang kurang mampu, kami mengajak mereka sekalian. Oya, sebelum kulanjutkan, kalau kalian lupa, mbak Irma dan mas Dimas itu 2 sepupuku yang lain. Mereka tinggal di Wlingi juga namun di desa yang berbeda.

Di jalan menuju ke Blitar itu, entah dari mana awalnya, kami membicarakan tentang lokasi-lokasi wisata baru yang ada di Blitar. Dari itu kami ingin mengunjungi setidaknya 1 tempat wisata yang baru itu setelah papski mengurus ATM-nya.

Awalnya kami ingin pergi ke Gunung Kelud, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan kami terpikir akan ke Kaloka. Namun katanya memang masih dalam proses pembangunan, jadi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Hutan Pinus Gogoniti, yang sebelumnya pernah dikunjungi oleh Mbak Irma.

Kalau kalian pernah baca tulisanku saat aku di Yogyakarta, kalian pasti tahu kalau aku juga pernah pergi ke wisata hutan pinus sebelumnya. Karena itu aku jadi ingin tahu hutan pinus yang di wilayah Blitar ini seperti apa. Baca lebih lanjut

Tiga Hari di Kelas Junior Journalist

Hola! Seperti yang kalian tahu jika kalian melihat instagramku (nama instagramku itu : @ayundadamai), aku mengikuti Kelas Junior Journalist di Holiday Program-nya Sekolah Cikal Cilandak selama 3 hari saat liburan kemarin.

img_0081-1

Di Holiday Program itu sebenarnya ada kelas-kelas lain selain Junior Journalist. Ada kelas Dance Hip-Hop, Science, dan Doctor. Tapi tentu saja aku memilih kelas Junior Journalist, karena aku ingin belajar tentang jurnalistik lebih banyak. Tapi seandainya ada kelas musik, aku akan lebih memilih kelas musik siih.. Hihihi..

Malam sebelum hari pertama Kelas Junior Journalist, aku merasa deg-degan. Soalnya aku takut tidak punya teman di sana. Namun besoknya, ternyata justru mereka yang datang dan mengajak kenalan ke aku lebih dulu. Benar-benar di luar dugaanku, mereka teman-teman yang ramah.

Selama belajar di sana, kegiatan prakteknya lebih banyak daripada teori. Jadi aku bisa lebih paham tanpa perlu bosan mendengarkan ceramah panjang dari pembinanya (seperti di pelatihan jurnalistik yang dulu pernah kuikuti, hehehe…)

Vlog-6 : Jakarta Kelas Jurnalistik @sekolahcikal #triptojakarta #damaitojakarta #vlog

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Di hari pertama program, kami belajar tentang apa itu jurnalistik dan wawancara. Sebenarnya aku sudah agak tahu tentang yang ini. But still, the activity was so fun anyway. So, nggak apa-apalah, aku mengulang belajar lagi dengan cara belajar yang berbeda.

Di hari kedua kami mempelajari tentang kamera. Setelah penjelasan sedikit tentang angle, jenis kamera, dll, kami praktek mengoperasikan kamera video yang besaaaaar banget. Biasanya kamera semacam itu dibuat untuk syuting film atau acara di televisi. Di akhir hari kedua ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk praktek broadcasting esok harinya. Kami diminta membuat acara yang membahas tentang hal-hal yang terjadi di area sekolah Cikal. Karena seluruh murid itu 15 anak, maka otomatis  kelompokku terdiri dari 5 anak.

Nah, hari terakhir, itu yang paling seru dari hari-hari sebelumnya karena kami berpraktik broadcasting. Di semua kelompok, dua anak jadi host/reporter, dua anak jadi cameraman dan satu anak menjadi program director/ketua. Dan aku menjadi host! Yayyy…..!

img_9127

Acara yang kubuat bersama kelompok lebih seperti talkshow. Namanya ‘Ada Apa dengan Talkshow’, hihihi.. Thanks to Bibie (the program director) for naming this talkshow. Isinya, aku dan satu host lagi yang bernama Sasya mengundang gardener sekolah Cikal (I forget his name) dan mewawancarainya dalam talkshow itu. Kami menanyakan tentang kenapa mau jadi gardener, siapa yang mengajari, tips and trick untuk merawat tanaman, dll.

img_9128

It was stressful but fun at the same time. Rasanya aku itu nervous tapi aku tetep pengen jadi host. Namun akhirnya, Alhamdulillah, berhasiiil! Walaupun ada kesalahan sedikit di bagian akhir, tapi kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Dan rasanya itu legaaa banget. Nggak bisa dijelaskan selega apa aku saat itu.

Di Cikal, selain belajar jurnalistik aku juga dapat banyak teman baru dan dua diantaranya menjadi teman dekat selama belajar. Aku juga tanpa sadar menjadi lebih aktif melatih bahasa inggrisku, as you can see. Soalnya di sana teman-temanku memang lebih banyak bicara dengan Bahasa Inggris. Jadi, aku pengen banget ikut program ini lagi kalau tahun depan juga diadakan.

img_0119

Itu dulu untuk hari ini yaa, see you..!

Perkebunan Kopi Karanganyar Blitar

Haaiiii!!! Kalian masih ingat kan ceritaku di Yogyakarta (bagi yang belum baca bisa klik di sini untuk hari pertama dan di sini untuk hari kedua) ?

Nah, setelah berlibur di Yogyakarta, beberapa minggu selajutnya aku dan mamski pergi ke rumah nenek dan berwisata ke Kebun Kopi Karanganyar, Nglegok-Blitar.

IMG_0060.jpg

Kami berangkat dari rumah nenek pagi, dengan harapan perjalanan ke sana tidak macet. Karena waktu itu long week end. Biasanya kalau libur seperti itu tempat-tempat wisata selalu penuh. Yang pergi ke sana selain aku adalah mamski, bapak Niknok, Ilham, Sena, Bude Raras, mbak Risma dan mbak Fifi. Saat itu mas Dimas tidak ikut karena sedang di rumah neneknya dari ibu (Bude Wenny).

Begitu sampai sana, kukira kami akan menjadi orang yang pertama datang. Ternyata, sudah ada beberapa orang lain yang sampai duluan walaupun waktu itu masih belum ramai sekali.

Di sana bayar tiketnya per orang adalah Rp 5000,-. Tiketnya berbentuk gelang kertas seperti yang harus kalian pakai saat di tempat wisata besar seperti Jatimpark atau Eco Green Park.

IMG_0081.jpg

Mungkin karena masih cukup pagi, area wisatanya masih bersih. Sampah-sampah di sana yang tercecer tidak banyak. Di Kebun Kopi Karanganyar juga ada papan-papan kayu yang bertuliskan sindiran bagi orang-orang yang suka membuang sampah sembarangan.

Di dalam Kebun Kopi Karanganyar sendiri terdapat Cafe dan 2 museum. Yaitu museum Purnabakti dan museum Pusaka. Selain itu juga ada yang namanya Rumah Loji yang dulunya adalah rumah pemilik pertama Perkebunan Kopi Karanganyar. Jadi meskipun perkebunan ini dulu milik Belanda waktu jaman penjajahan, tapi kemudian bisa dimiliki oleh orang pribumi yang kemudian turun-temurun diwariskan ke anak-anaknya.

IMG_0067.jpg

Bangunan khas Belanda adalah salah satu yang membuat perkebunan kopi karanganyar ini cocok bagi kalian yang mencari spot foto yang unik dan lucu. Mulai dari bentuk gedung Cafe-nya yang seperti benteng lama sampai tempat pusat informasi yang bertuliskan “De Karanganjar Koffieplantage”.

Bagi teman-teman yang ingin ke sana untuk tujuan liburan akhir tahun, ini rute yang bisa kalian tempuh :

Pertigaan pasar Penataran Nglegok ambil jalur kanan menuju desa Modangan — lalu perempatan Kantor Desa Modangan ambil arah kiri searah petunjuk menuju Arca Warak dan Kampung Melon — setelah itu ikuti jalan dan petunjuk yang ada sampai tiba di kawasan Perkebunan Karanganyar.

Sudah dulu ya untuk tulisan kali ini. Semoga berguna untuk kalian yang mau menghabiskan liburan akhir tahun di area sekitar Blitar. Byee….

IMG_0064.jpg

 

Yogyakarta #2 ~ Lava Tour Merapi

Haaiii..!! Ini adalah cerita liburanku di Yogyakarta di hari kedua. Maaf ya, agak lama dipostingnya.

Masih ingat ceritaku di hari pertama kan? Buat yang sudah lupa, silakan dibaca lagi sebentar di sini.

Jadi di hari kedua, begitu aku bangun, papski sudah ada di kamar hotel. Aku segera shalat dan mandi. Setelah mamski dan papski selesai bersiap-siap, kami menuju lobby untuk sarapan.

Sehabis sarapan, kami menunggu jemputan masing-masing. Mamski dijemput ke Fakultas Psikologi UGM oleh panitia seminar, sementara aku dan papski dijemput tante Dhani (relawan suara anak juga selain Tante Tyas) untuk mengantar kami jalan-jalan.

Begitu mamski dijemput, aku, papski dan tante Dhani juga berangkat meninggalkan hotel. Namun ternyata, tante Dhani tidak sendirian. Sebab ia mengajak putra dan suaminya juga.

Untuk tujuan pertama, kami akan menyewa jeep untuk Lava Tour Merapi. Dan selama perjalanan ke tempat penyewaan jeep, aku excited banget. Soalnya ini adalah kali pertama aku menaiki jeep yang dari penampakannya saja sudah seru.

Begitu sampai tempat penyewaan jeep-nya, aku turun dari mobil dan menghirup udara yang segar banget. Itu di daerah kaliurang. Ditambah hawanya yang saat itu dingin, jadinya tambah segar deh.

Saat semuanya siap, kami langsung naik ke jeep. Untuk pemberhentian pertama, kami menuju semacam kompleks kecil rumah bekas peninggalan erupsi gunung merapi. Jadi rumahnya itu telah hancur karena erupsi merapi beberapa tahun yang lalu. Di dalamnya, ada banyak benda yang terkena erupsi merapi. Seperti gelas dan alat rumah tangga yang terkena awan panas, kerangka sapi, dan lain-lain.


Selain itu juga ada gambar yang ‘katanya’ adalah penampakan arwah penunggu gunung Merapi di awan panas. Tapi kalau kataku dan papski, orang yang ‘katanya’ melihat penampakan itu pasti imajinatif banget. Hihihi… Karena menurutku itu seperti awan hitam biasa saja.

Setelah puas melihat-lihat peninggalan erupsi merapi, aku dan papski sempat beli minum dan makanan ringan serta berfoto dulu. Baru kami naik jeep-nya dan menuju pemberhentian berikutnya.


Menuju pemberhentian berikutnya ini, jalannya agak berbatu. Walaupun masih terasa tidak parah. Karena entah kenapa aku yakin kalau nanti juga akan ada jalan yang lebih berbatu lagi.

Pemberhentian kedua kami adalah suatu tempat yang disebut ‘Batu Alien’. Kalau dari om-nya yang menyupir jeep, nama batu alien sebenarnya berasal dari bahasa jawa yaitu alihan yang berarti pindahan. Nah, kan di tempat itu ada satu batu yang besar, katanya dulu sebelum erupsi merapi masih belum ada batu besar itu. Namun karena erupsi merapi, mendadak ada batu besar itu di sana. Makanya di sebut ‘Batu Alihan atau Batu Alien’.


Tentu saja, bukan ‘aku’ namanya kalau belum foto-foto di setiap tempat berhenti, hehehe…. Jadi ya kami foto-foto juga di sekitar tempat Batu Alien itu. Meskipun memang ada hal yang bikin mengganggu pemandangan di sana, yaitu tambang pasir. Selain karena merusak pemandangan, penambangan liar seperti itu kan membuat kekayaan alam kita ini bisa habis juga jika terus-menerus dikeruk dengan seenaknya. Jadi walaupun tidak berdampak langsung ke aku, aku tetap menganggap keberadaan tambang pasir itu sangat-sangat mengganggu.

Kami segera naik ke jeep lagi untuk pergi ke pemberhentian terakhir yaitu Bunker Merapi atau pos pengamatan erupsi merapi. Dan perjalanan ke sana, haduuuh, kayak terkocok-kocok di mesin cuci! Kacau banget pokoknya! Badan terguncang-guncang tidak karuan! Tapi yaa, setidaknya menambah pengalaman yang super seru..

Begitu sampai di Bungker-nya, hawanya beneran segeeeerrr banget…. Ditambah lagi pemandangannya bikin mata adem saking indahnya. Aku menyempatkan untuk memotret batu-batu alami untuk kujadikan background quotes.

Kami melihat-lihat di area Bunker agak lama. Dan baru kembali ke jeep saat mulai gerimis. Di tengah jalan menuju tempat persewaan jeep, kami ditawari apa mau naik jeep sambil masuk ke area sungai yang dangkal. Lalu ya, anak-anak mana sih yang nggak mau kalau ditawari main air.

Saat jeep-nya masuk ke dalam air itu rasanya, huwaaaaaaaa!!!. Seru sekali walaupun airnya tidak sampai menciprati orang-orang yang di dalam jeep karena bagian tutup atapnya sedang dipasang. Tapi andai saja mobil jeep yang aku tumpangi itu bagian atapnya tidak dipasang seperti jeep yang lain, pasti bajuku sudah basah kuyup.

Selesai itu kami lalu kembali ke tempat persewaan jeep. Saat di mobil tante Dhani, aku merasa perutku mual. Ya mungkin karena Lava Tour itu tadi. Tapi mualnya memang tidak parah. Jadi aku tidak memberi tahu yang lain, cuma kutahan-tahan saja.

Dari sana, tujuan kami berlima selanjutnya adalah Hutan Pinus Mangunan. Namun sebelumnya, kami mampir di sebuah restoran untuk makan siang. Tapi maaf, aku sudah lupa apa nama restorannya ya.. Di sana, aku makan Spaghetti dan Creme Brulee untuk dessert-nya, lalu aku juga minum Ice Tea Tarik. Dan makanan di sana enaaak banget! Apalagi Creme Brulee-nya. Hmmm… Jadi pengen ke sana lagi deh, hehe..

Setelah makan, kami kembali menuju Hutan Pinus Mangunan. Dan katanya, di sana sedang ada Festival Dongeng. Makanya itu aku ingin pergi ke sana.

Di Hutan Pinus Mangunan sebenarnya tidak ada apa-apa kecuali hutan pinus dengan beberapa tempat duduk. Tapi di sana memang cocok untuk objek foto dengan background pohon yang cantik alami.

Dan Festival Dongengnya, memang saat itu masih belum selesai. Tapi kami melewatkan sesi mendongengnya. Akhirnya aku dan papski melihat-lihat hutan pinusnya saja.


Sebelum diantar kembali ke hotel, tante Dhani ingin pergi ke tempat wisata baru di daerah Mangunan. Jadi dengan bertanya-tanya pada warga sekitar, kamipun sampai juga. Dan namanya adalah Jurang Tembelan.

Jurang Tembelan ini masih dibangun sebenarnya, tapi wisatawan sudah boleh masuk. Isinya Jurang Tembelan ini adalah semacam papan-papan yang terbuat dari bambu di pinggir jurang yang dibuat untuk berfoto dan melihat alam sekitar.


Saat aku mau naik ke salah satu papannya, aku merasa kalau papannya gerak-gerak tertiup angin. Namun setelah aku bisa menyeimbangkan diri, hal itu tidak menjadi masalah lagi.

Hari sudah mulai gelap, jadi kami kembali menempuh perjalanan pulang ke hotel yang entah kenapa terasa lebih cepat daripada berangkatnya. Di hotel, mamski belum selesai mengisi seminar. Jadi aku dan papski minum teh dan kopi di resto sambil menunggu mamski datang. Tidak berapa lama, mamski-pun sampai. Kami langsung ke kamar hotel untuk beristirahat dan aku yang dengan semangat menceritakan pengalamanku di hari itu ke mamski.